AXIALNEWS.id | Penulis senior Maman Suherman mengunggah video dirinya melalui akun medsos pribadinya @Maman Suherman.
Dalam video itu, Maman Suherman mengungkapkan kekaguman atas tulisan Gus Nadir (Profesor Nadir Syah Hosen) dan membacakannya.
Alif, Lam, Mim
Tiga huruf yang berdiri sendiri,
Tanpa makna yang tersurat, tanpa tafsir yang mutlak,
Hanya Allah yang mengetahui, tapi bukankah justru di sanalah letak keindahannya,
Bahwa tidak semua yang indah harus dimengerti, tidak semua rahasia harus dipecahkan, ada yang cukup diterima dengan hati,
Diimani dengan pasrah dan dicintai tanpa harus sepenuhnya dipahami,
Quran Surah Luqman ayat 1 dan 2,
Alif, Lam, Mim, itulah ayat-ayat kitab yang penuh hikmah,
Betapa sering kita ingin memahami segalanya, memaksa takdir agar berbicara, mendesak kehidupan agar memberi jawaban,
Tetapi di awal wahyu, Allah mengajarkan sesuatu yang lebih dari sekedar makna, ada hal-hal yang hanya bisa diterima dengan iman,
Ada jawaban yang hanya akan datang di waktu yang tepat, ada perjalananan yang harus ditempuh dengan ketundukan,
Maka Alif, Lam, Mim bukan sekadar rangkaian huruf, dia adalah pesan lembut dari langit,
Percayalah…! Meski kau tak selalu mengerti,
Alif awal yang harus dijalani,
Lihatlah Alif, tegak berdiri, kuat seperti seseorang yang menjejakkan kaki di awal perjalanan,
Dia tidak ragu, tidak bertanya, hanya melangkah dengan keberanian,
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada awal yang penuh tanda tanya,
Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan, kita tidak tahu apakah langkah kita benar,
Tetapi seperti Alif, kita harus berani berdiri,
Bahkan ketika dunia belum memberi kepastian, karena keyakinan adalah awal dari segalanya,
Saya ingat ibu saya, yang menasehati saya, tegakkan Alif mu.
Lam, kelenturan dalam perjalanan,
Lalu ada Lam, huruf yang melengkung seakan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu lurus,
Ada liku yang harus dilewati, ada tikungan yang membawa kita ke arah yang tak terduga,
Lam mengajarkan bahwa ada waktu untuk tegar seperti Alif,
Tetapi ada pula saatnya untuk tunduk, untuk bersabar, untuk menerima,
Karena tidak semua pertanyaan perlu jawaban saat ini juga, tidak semua doa harus dikabulkan.
Bergerak, ada keindahan dalam menunggu, ada kemuliaan dalam berserah,
Mim pulang ke pangkuannya,
Dan akhirnya ada Mim, huruf yang melingkar sempurna,
Seperti lingkaran yang membawa kita kembali ke titik asal, seperti ombak yang berlari ke pantai hanya untuk kembali ke laut,
Seperti angin yang berembus ke segala arah, tapi pada akhirnya menemukan jalannya kembali.
Mim mengajarkan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan pulang.
Tak ada perjalananan yang sia-sia, tak ada kehilangan yang benar-benar hilang,
Apa yang pergi jika memang ditakdirkan, ditakdirkan untukmu, akan kembali dalam bentuk yang lebih indah,
Dan apa yang tak kembali, mungkin memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari perjalanan, bukan tujuan.
Alif, Lam, Mim, cinta yang tidak perlu dimengerti,
Alif, Lam, Mim, bukan sekadar huruf, ia adalah bisikan lembut dari langit.
Mengajarkan kita untuk percaya, meski tak selalu mengerti,
Seperti hidup yang penuh rahasia tetapi selalu memiliki makna,
Seperti doa yang tak selalu mendapat jawaban, tapi selalu didengar,
Seperti cinta yang tak selalu bisa dimiliki, tetapi tetap indah untuk dirasakan,
Maka berjalanlah seperti Alif, berani memulai meski tak tahu ke mana arah akan membawa,
Hadapilah hidup seperti Lam, sabar menerima setiap liku dan perubahan,
Dan akhirnya pulang seperti Mim dengan hati yang utuh, dengan jiwa yang tenang kembali kepada-NYA
Karena pada akhirnya, semua pertanyaan akan terjawab di hadapan-NYA
Dan di situlah kita akan memahami bahwa setiap langkah, setiap air mata, setiap pencarian, semuanya telah membawa kita lebih dekat kepada-NYA
Pada akhirnya kita akan sampai,
Pada akhirnya kita akan pulang,
Dan di hadapannya kita akan menyadari bahwa perjalanan ini selalu berada dalam genggaman kasih-NYA.