Lihat Data Ini…! Sumatera Sedang Dibunuh Perlahan, Legal, Sistematis

Bencana banjir bandang dan longsor Pulau Sumatera, Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar. (Sumber: ANTARA FOTO/Yudi Manar)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Lihat Data Ini, Wajar Kalau Sumatera Hancur-lebur. Kita lanjutkan Bencana Tanda Tangan di tanah Sumatera. Kali ini saya beberkan data kongkret izin tambang yang membuat Tanah Andalas hancur-lebur. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Uda uni bayangkan! Pulau sebesar 473 ribu kilometer persegi, rumahnya 60 juta jiwa, yang sekarang rasanya sudah naik ke panci raksasa, dijadikan lauk pauk bagi pesta pora industri ekstraktif. Inilah Sumatera. Bukan lagi pulau, tapi altar pengorbanan nasional edisi “disembelih perlahan sambil disetujui negara”.

Data resmi Kementerian ESDM per Desember 2025, bukan rumor, bukan karangan, ini dokumen negara, mencatat 2.054 izin tambang aktif yang sedang mengunyah tubuh Sumatera.

Luas totalnya? 2,7 juta hektare. Kalau dibagi merata ke tujuh hari, rasanya tiap detik ada satu jengkal tanah yang berubah dari hijau jadi cokelat, dari rindang jadi berkawah, dari teduh jadi terkelupas. Hitungan kasarnya, 7.400 hektare per minggu berubah fungsi, dan kata mereka itu “kemajuan”.

Bangka Belitung? Sudah 452 izin. Pulau itu tak lagi berwajah pulau tropis, melainkan mirip wajah bulan yang dipahat pakai linggis. Kawah di mana-mana, lubang mirip sumur maut, dan sisa-sisa tanah yang sudah bukan tanah.

Kepulauan Riau 349 izin, lautnya jadi sup bauksit cokelat, ikan sampai pindah ke Malaysia, minta paspor sementara.

Baca Juga  HUT ke-79, PMI Diminta Fatoni Banyak Kirimkan Proposal

Sumatera Selatan 228 izin, Sumbar 208, Jambi 201, Sumut 178. Sisanya seperti kue ulang tahun, dipotong rata, tapi bukan pakai pisau, melainkan chainsaw hidrolik.

Bencana banjir bandang dan longsor Pulau Sumatera, Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar. (Sumber: ANTARA FOTO/Yudi Manar)

Hampir separuh lahan tambang itu menempel di kawasan hutan lindung, karst, dan hulu DAS yang seharusnya jadi organ vital, kantung air, paru-paru alami, pelindung nyawa.

Tapi apa kata negara? “Sudahlah, hutan bisa ditanamin duit kok.” Jadilah air hujan menari liar, bukannya meresap, malah menggelincir ganas, membawa lumpur, bebatuan, dan nasib manusia yang kebetulan berdiri di jalurnya.

Banjir di Palembang? Longsor di Padang Pariaman? Jangan bilang “alam marah” itu sebenarnya semacam invoice, tagihan dari alam ke manusia akibat kesalahan administrasi berpuluh tahun.

Yang bikin kepala bergemuruh, pemerintah masih rajin menerbitkan izin baru setiap bulan, seolah sedang main game koleksi lahan. Seolah Sumatera ini kanvas kosong yang bisa diremukkan menjadi deretan angka pendapatan negara, dengan nyawa rakyat sebagai footnote.

Baca Juga  Armada Bus Gratis Polda Sumut untuk Mudik Mahasiswa Jakarta-Medan

JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) sudah meraung dari lama. Cabut izin perusak, stop ekspansi di hulu sungai, kembalikan pengelolaan untuk masyarakat adat yang ribuan tahun sudah membuktikan diri sebagai penjaga hutan paling efektif.

Tapi suara yang datang dari negara, “Tenang, kami reboisasi.” Reboisasi di mana? Di kawah sedalam 80 meter? Di kolam tailing yang bisa mematikan ikan hanya karena seekor gurami mengendus airnya?

Sekarang Sumatera sudah bukan lagi pulau, melainkan conveyor belt raksasa, mengirim batubara, timah, bauksit, nikel ke luar negeri. Sementara kita menerima balasannya berupa banjir, longsor, udara beracun, trauma anak-anak, dan sejarah hidup yang ditulis dengan lumpur. Royalti? Masuk sih, tapi cuma segenggam receh untuk negara, sementara rakyat bayar dengan kehidupan.

Baca Juga  Formasi 1.671 Guru PPPK Langkat 2024 Disetujui untuk Status P

Bencana banjir bandang dan longsor Pulau Sumatera, Provinsi Aceh, Sumut dan Sumbar. (Sumber: ANTARA FOTO/Yudi Manar)

So, nanti kalau ada yang bertanya, “Kenapa banjir makin parah ya?” jawab saja dengan tenang,
“Karena kita izinkan satu pulau diubah jadi lubang galian raksasa, pakai stempel resmi kantor yang gajinya dibayar dari pajak rakyat.”

Sumatera sedang tidak mati, tetapi sedang dibunuh, perlahan, legal, sistematis. Pembunuhnya? Bukan sekadar perusahaan tambang, tapi tanda tangan.

Yang belum terjadi tinggal satu bab terakhir, kita semua menonton berita, dan sadar bahwa film horor berjudul Indonesia Tanpa Sumatera bukan lagi fiksi.

Pergi ke hulu menangkap ikan Airnya keruh bekas galian Pulau rusak bukan karena hujan Tapi tanda tangan atas nama kebijakan

Ke ladang pagi menanam kacang Burung di dahan tak lagi riang Hutan hilang bukan karena datang petang Tapi digusur pelan oleh izin tambang

Penulis: Ketua Satupena Kalbar, Rosadi Jamani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us