Masjid Raya Binjai Dibangun Sultan Langkat, Ketahui Detail Sejarahnya

Foto masa lalu Masjid Raya Binjai. (Dok. Tengku Fahrizal Mochrin)

AXIALNEWS.id | Dosen dan mahasiswa semester II Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) AL Washliyah Kota Binjai berkumpul di kampus Jalan Perintis Kemerdekaan No 148, Kebun Lada, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai.

Pada pukul 08.00 WIB, mahasiswa langsung berangkat ke lokasi dengan mengendarai motor.

Tepatnya di Jalan KH Wahid Hasyim No 3, Pekan Binjai, Kecamatan Binjai Kota, Kota Binjai guna mencari dan mendalami Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang ada di daerah, khususnya di Kota Binjai.

Sesampainya di Masjid Raya Binjai kami menemui Bapak Usman selaku Sekertaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Raya Binjai. Beliau yang memang tinggal di depan Mesjid tersebut.

Dosen dan mahasiswa pun langsung diajak berkeliling seputar masjid sembari menceritakan sejarah Masjid Raya Binjai.

Di ceritakan oleh Usman, Masjid Raya Binjai ini pertama kali dibangun oleh Sultan Langkat Tuangku Sultan Haji Musa Al Khalid Al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) Bin Raja Ahmad yang menjabat periode 1840 – 1893.

Dosen & mahasiswa PAI STIT AL Washliyah Kota Binjai bersama Sekretaris BKM Raya Binjai, Usman. (berita aksial) 

“Peletakan Batu pertamanya tahun 1887, di masa Tuanku Sultan Haji Musa Pembangunan Masjid ini belum rampung dan setelah mangkatnya (meninggal) Tuanku Sultan Haji Musa, Kesultanan diperintah oleh putranya Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmatshah (1893-1927),” jelasnya sambil menunjukan prasasti.

Dan Masjid ini selesai serta diresmikan oleh Tuanku Sultan Abdul Aziz lebih kurang tahun 1894. Pada tahun 1924 renovasi dilakukan untuk merubah kubah yang ada di masjid.

“Sampai sekarang ini kubah masjid tersebut tidak dilakukan renovasi lagi dan pada tahun 1990an renovasi dilakukan terhadap lantai teras masjid begitu pula dengan pembangunan menaranya,” paparnya.

Sejarah Panjang Masjid Raya Binjai

Masjid Raya Binjai, yang terletak di Kota Binjai Sumatera Utara, memiliki sejarah panjang yang dimulai pada akhir abad ke-19. Berikut adalah beberapa poin penting tentang sejarah masjid ini.

Baca Juga  Diresmikan, Ini Harapan Sribana untuk Taman Wisata Syariah Pamah Simelir

Dahulunya, sekitar masjid ada sungai yang menghubungkan ke sungai Wampu sebagai pusat perdagangan dan Sultan Langkat jalan transportasi membangun masjid. Namun sekarang sudah tidak ada karena untuk jalan dan rumah.

Masjid Raya Binjai didirikan pada tahun 1887 Sultan Haji Musa dan diresmikan oleh Sultan Abdul Aziz, yang merupakan Sultan Langkat pada masa itu.

Pendirian masjid ini bertujuan untuk memperkuat syiar Islam di wilayah Binjai dan sekitarnya. Pada Batu Prasasti yang tertulis pada pintu masuk belakang masjid yang berbahasa Arab melayu sejarah singkat pendirian Mesjid Raya Binjai tertulis di prasasti tersebut.

  • Masjid Sebagai Sumber Aktivitas

Peranan Masjid tidak hanya menitik beratkan pada aktivitas akhirat saja tetapi mempadukan antara aktivitas ukhrawi dan duniawi.

Dalam perkembangannya yang terkahir, masjid mulai memperlihatkan aktivitas operasional menuju keragaman dan kesempurnaan kegiatan.

  • Peran Sosial dan Keagamaan

Sejak didirikan, Masjid Raya Binjai telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di Kota Binjai. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, dan perayaan hari besar Islam.

Di Bulan Ramadan terdapat tradisi khas Melayu Sumatera Timur yaitu adanya Bubur Pedas yang dibuat dan dibagikan gratis untuk orang yang berbuka puasa.

  • Renovasi dan Pemeliharaan

Selama lebih dari satu abad, Masjid Raya Binjai telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga keindahan dan keutuhannya.

Renovasi ini dilakukan tanpa mengubah karakter asli dari bangunan masjid, sehingga tetap mempertahankan elemen-elemen historisnya seperti kuba, mimbar khatib dan tulisan kaligrafi di dinding masjid.

  • Ikon Kota Binjai

Masjid ini telah menjadi salah satu ikon Kota Binjai, menarik perhatian tidak hanya dari penduduk setempat tetapi juga dari wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan budaya Islam di Sumatera Utara.

Walikota Binjai Amir Hamzah menetapkan Masjid Raya Binjai sebagai Cagar Budaya sesuai Surat Keputusan Walikota Binjai Nomor: 188.45-1236/K/2021 tentang Penetapan Gedung dan Bangunan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Baca Juga  Dinilai Tidak Transparan, Revitalisasi Lapangan Merdeka Medan Dipertanyakan

Masjid ini bukan hanya sebagai bangunan bersejarah tetapi juga simbol perjuangan dan perkembangan Islam di Sumut.

Keberadaannya menjadi bukti pentingnya peran agama dalam kehidupan masyarakat Binjai dan sekitarnya.

Masjid ini menjadi daya tarik para wisatawan religius bagi yang ingin melihat keindahan arsitektur dan merasakan atmosfer spritual di tempat bersejarah ini. Imam Solatnya pun seorang Hafiz (penghafal) Alquran.

  • Pengaruh Politik dan Sosial

Sebagai masjid utama di Kota Binjai, Masjid Raya Binjai sering menjadi tempat pertemuan tokoh-tokoh agama dan masyarakat setempat.

Ini memberikan masjid peran penting dalam dinamika sosial dan politik di daerah tersebut, terutama dalam menggalang dukungan untuk isu-isu sosial dan keagamaan.

  • Pendidikan dan Dakwah

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Raya Binjai juga berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam.

Pengajian, madrasah, dan berbagai program dakwah rutin diselenggarakan di masjid ini untuk mendidik masyarakat tentang ajaran Islam dan memperkuat keimanan mereka.

Hal ini di perkuat dengan didirikannya Sekolah Islam Al Islahiyah yang berdiri di lingkungan Masjid Raya Binjai.

  • Arsitektur dan Desain Interior

Interior masjid dihiasi dengan kaligrafi Arab dan ornamen khas Melayu, menciptakan suasana yang sakral dan indah bagi para jamaah.

Material bangunan yang digunakan juga menunjukkan perpaduan antara teknik lokal dan pengaruh asing, mencerminkan sejarah panjang pertukaran budaya di wilayah ini.

  • Peran di Era Modern

Di era modern, Masjid Raya Binjai terus berkembang dengan menambah fasilitas untuk jamaah, termasuk perpustakaan, ruang serbaguna, dan area parkir yang lebih luas.

Masjid ini juga memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan dakwah, seperti melalui siaran langsung ceramah dan pengajian di media sosial.

  • Warisan Budaya

Sebagai salah satu bangunan bersejarah di Sumatera Utara, Masjid Raya Binjai diakui sebagai bagian penting dari warisan budaya daerah.

Baca Juga  Dosen FISIP UMSU Latih Design Grafis ke PK IMM Hukum

Upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat untuk memastikan bahwa masjid ini tetap berdiri kokoh dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Di akhir penjelasan, Bapak Usman berpesan kepada kami semua agar terus menggali informasi tentang sejarah sejarah Islam di daerah terutama Kota Binjai agar warisan budaya di daerah kita tetap terjaga dan ada hingga ke anak cucu kelak.

  • Pusat Perekonomian

Lingkungan Masjid Raya Binjai berdampingan dengan Sekolah AL Islahiyah dan Pasar. Dimana tampak terlihat banyak kendaraan umum, pedagang dan pembeli. Berbagai jenis barang dam makanan yang bisa di beli ketika berkunjung ke Masjid Raya Binjai.

Melly Rizki Miranda, salah seorang mahasiswi berharap semoga ke depannya masjid ini tetap terjaga dengan baik dan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat.

“Dan juga berharap bisa melakukan renovasi-renovasi kecil yang dilakukan untuk mempertahankan keindahan dan fungsi masjid ini tanpa mengubah nilai sejarahnya,” kata Melly.

Senada, mahasiswi Della Anggreni Br Meliala berharap Pemko Binjai dan masyarakat untuk sama sama menjaga Masjid Raya Binjai serta melestarikan supaya tidak rusak hingga bisa dapat digunakan seterusnya.

Dosen Mata Kuliah Pengembangan Materi SKI di SD/MI, Abdul Rahim Daulay menjelaskan tujuan ke Masjid Raya Binjai ini.

Mata kuliah ini salah satu menelaah asal usul, perkembangan dan peranan kebudayaan di masa lampau mulai dari Nabi Adam sampai Muhammad SAW periode di Mekkah dan Madinah serta kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat, sahabat Nabi Muhammad hingga para ulama,” jelas Rahim.

Tak hanya itu, sambungnya, mahasiswa juga harus melihat dan mengetahui perkembangan tentang Sejarah Kebudayaan dan Tokoh Islam di daerah.

“Usai tamat kuliah mahasiswa STIT Al Washliyah Binjai diharapkan sudah terampil mengajar, metode yang digunakan supaya siswa-siswi senang mempelajari SKI, dan mengetahui strategi agar anak murid mencintai Sejarah Kebudayaan Islam mulai dari Nabi Muhammad, hingga ulama dan tokoh Islam di daerah,” kata Rahim.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us