Keruntuhan Konstantinopel Ditangan Al Fatih, Pemuda Berusia 21 Tahun

Ilustrasi Penaklukan Konstantinopel oleh Turki Utsmani pimpinan Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih. (SHUTTERSTOCK/LESTERTAIR)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Sejarah mencatat, dari kemunculan hadis Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstantinopel, akhirnya baru terjadi setelah 800 tahun (8 abad) lamanya, tepatnya pada 29 Mei 1453.

Pemimpin pasukan penaklukan Konstantinopel merupakan pemuda belia yang masih berusia 21 tahun. 

Sultan ketujuh dari Dinasti Utsmaniyah itu berhasil meyakinkan 250.000 pasukan yang dipimpinnya untuk bisa menang. 

“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad). 

Sebelumnya upaya penaklukan Konstantinopel telah dilakukan sebanyak 11 kali, namun kesemuanya gagal. 

Mengutip dari kompascom, Muhammad Al Fatih merupakan Sultan Turki Ottoman yang berkuasa selama dua periode, yakni sejak Agustus 1444 – September 1446, dan Februari 1451-Mei 1481.Setelah naik takhta di usia 12 tahun, Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun.

Sebagian sumber menyebutkan penaklukan Konstantinopel dilakukan saat Muhammad Al Fatih berusia 23 tahun dan 25 tahun.

Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel 

Pada masa pemerintahannya yang kedua, Muhammad Al Fatih bertekad untuk memperkuat angkatan laut Ottoman dan berusaha merebut Konstantinopel dari Kekaisaran Romawi Timur. 

Keinginannya ini pun dapat terwujud hanya dalam waktu dua tahun. Pada awal 1453, ia mengerahkan 80.000-200.000 pasukan Ottoman, artileri, dan 320 kapal perang untuk mengepung Konstantinopel. 

Pada awal April 1453, Muhammad Al Fatih menyerang Konstantinopel dan mengepungnya. Pengepungan berlangsung selama 53 hari, sampai akhirnya Konstantinopel jatuh pada 29 Mei 1453. 

Pihak Konstantinopel yang dipimpin oleh Kaisar Constantine XI sebenarnya mendapatkan bantuan dari para pembelot Ottoman dan Vatikan. 

Namun, mereka tetap tidak kuasa membendung kekuatan Muhammad Al Fatih dan pasukannya.

Setelah Konstantinopel jatuh, Muhammad Al Fatih mengerahkan pasukannya ke Provinsi Morea di Peloponnesos pada 1461. Penaklukkannya pun terus berlanjut hingga ke Serbia, Albania, hingga Crimea.

Pengganti Muhammad Al Fatih 

Pada 1481, Sultan Muhammad Al Fatih jatuh sakit hingga harus dirawat beberapa hari. 

Pada akhirnya, Sultan Muhammad Al Fatih meninggal pada 3 Mei 1481 dan jasadnya dikebumikan di Kompleks Masjid Fatih di Istanbul. 

Pengganti Muhammad Al Fatih setelah meninggal dunia adalah Bayezid II (1481-1512), putra tertuanya.

Sejarah, Karakteritik dan Teladannya

Muhammad Al-Fatih juga dikenal sebagai Mehmed II atau Mehmed Al-Fatih, adalah seorang pemimpin yang terkenal dalam sejarah karena berhasil menaklukkan Konstantinopel. 

Penaklukan ini tidak hanya merupakan prestasi yang luar biasa secara militer, tetapi juga memiliki dampak yang mendalam dalam pergeseran kekuasaan, dan perubahan sejarah di Timur Tengah dan Eropa.

Muhammad Al-Fatih merupakan putra dari Sultan Murad II, yang juga merupakan seorang penguasa berpengaruh. 

Sejak usia muda, Muhammad Al-Fatih dididik dengan baik dalam ilmu agama, seni perang, dan strategi militer. 

Baca Juga  Sejarah PWI Hingga Kiprah Wartawan Pertahankan Kemerdekaan RI

Ayahnya melihat potensi luar biasa dalam dirinya dan mempersiapkannya untuk mengambil alih tahta Ottoman.

Muhammad Al-Fatih memulai persiapan serius untuk menaklukkan Konstantinopel. Dia membangun kapal-kapal perang yang kuat, termasuk kapal-kapal pengangkut besar yang ditarik melalui darat untuk mengejutkan musuh. 

Selain itu, ia juga memperkuat pasukan dan mempersiapkan strategi militer yang inovatif untuk menghadapi benteng yang kuat di Konstantinopel.

Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih memiliki dampak yang signifikan dalam sejarah. Peristiwa ini menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur, dan menandai awal dari Kekaisaran Ottoman yang kuat di wilayah tersebut. 

Konstantinopel juga diubah namanya menjadi Istanbul, yang menjadi ibu kota baru kekaisaran Ottoman.

Berikut ini sejarah terkait Muhammad Al-Fatih yang Liputan6com rangkum dari berbagia sumber, Selasa (18/7/2023). 

Dalam Buku Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel karangan Syaikh Ramzi Al Munyawi, dijelaskan bahwa semasa kecil beliau dididik oleh Maula Ahmad bin Ismail Al Khurani. 

Pendidikan tersebut membuatnya tumbuh sebagai pemuda cerdas, menguasai bahasa Turki, Persia, Arab, Yunani, Italia dan Latin. Serta mampu membaca, menulis, menerjemahkan, dan mengkhatamkan Al Qur’an.

Mengutip dari laman kemenagjabar, saat muda Muhammad Al Fatih belajar dan berguru dengan banyak ilmuan, baik muslim maupun non-muslim. Ia belajar ilmu memanah, militer, sastra, sejarah klasik, geografi, dan sejarah Eropa.

Berbicara Al Fatih tentu lekat dengan Konstantinopel sebagai karya maha besar tak terlupakan sepanjang sejarah. Saat dirinya sudah tiada pun, karya itu masih terlihat jelas hingga kini. Semua berawal dari Hadis Nabi, 

“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad). 

Tetapi, harapan indah berusia 800 tahun itu terus tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran kitab hadis. 

Bukan tidak ada yang berminat merealisasikannya, melainkan gagal setelah 11 kali percobaan dilakukan. Melalui gurunya, Al Fatih diyakinkan bahwa ia pemimpin yang dimaksudkan dalam hadis itu.

Banyak Pihak Meragukan Al Fatihah

Awalnya, banyak orang meragukan impiannya tersebut. Selain usianya yang masih muda, siapa yang tak kenal dengan Konstantinopel sebagai kota yang dikelilingi Teluk Bosporus, Laut Marmara, dan Teluk Emas berpelindung rangkaian rantai besi sehingga armada kapal laut yang hendak masuk selalu tertahan? 

Adanya dua jalur pagar setinggi 25 dan 40 kaki yang mengelilingi, menjadikannya sulit minta ampun ditembus. 

Tetapi, kondisi demikian tidak membuat Al Fatih patah semangat. Berbagai persiapan menembus Konstantinopel terus disempurnakan, baik itu mulai mengumpulkan informasi, mengintai, dan mengawasi Konstantinopel menjadi aksi rutinnya menjelang detik-detik paling bersejarah. 

Lalu, ia mengumpulkan 250.000 pasukan untuk meyakinkan bahwa mereka bisa menang. 

Baca Juga  IMM Faperta UMSU Gelar Paket Dakwah Ramadan di Simalungun

Karakteristik Sifat Al Fatih

Sosok Sultan Muhammad II merupakan seorang Khilafah Utsmaniyah, memerintah hampir selama tiga puluh tahun yang diwarnai dengan kemuliaan dan kebaikan bagi kaum muslimin. 

Ia memiliki amanah menjadi Sultan Utsmani setelah menggantikan ayahnya Muhammad 1 yang telah wafat pada tanggal 16 Muharram 855 H, bertepatan dengan 18 Februari 1451 M. Ketika itu Muhammad II masih memiliki umur menginjak 22 tahun.

Sejak masa kecilnya memiliki keunggulan dalam menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan. Ia memiliki pengetahuan yang luas, khususnya dalam bidang Bahasa, serta memiliki kecenderungan besar terhadap buku-buku sejarah. 

Sultan Al-Fatih terjun sendiri ke medan laga dan berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. 

Dalam peperang di wilayah Balkan, tentara Utsmani berhadapan dengan tentara Bughanda yang bersembunyi di balik pepohonan yang rapat. 

Pasukan Utsmani yang melihat mocong meriam yang diarahkan dari pepohonan, seketika melakukan tiarap karena posisi tertahan dari serangan mengejutkan tersebut.

Kemudian sang Sultan lalu berteriak dengan lantang “Wahai pasukan Mujahidin, jadilah kalian tentara Allah, dan hendaklah ada dalam dada kalian semangat Islam yang membara”. 

Sesungguhnya dalam banyak sikap yang diabadikan dalam perjalanan sejarah Sultan Al-Fatih, tampak keutamaan sikap keikhlasannya, kedalaman iman, serta akidah lurus.

Dalam sebuah syair dia berkata:

Niatku: Taat kepada perintah Allah, “Dan Hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya (Al-Maidah: 35). Wa Hamasi (semangatku): Adalah mengeluarkan semua upaya untuk mengabdi pada agamaku, agama Allah. ‘Azmi (tekadku): Saya akan buat orang-orang kafir bertekuk lutut dengan bala tentaraku, berkat kelembutan Allah. Jihadi (Jihadku): Adalah dengan jiwa raga dan harta benda. Lalu apa makna dunia setelah ketaatan kepada perintah Allah. Wa Tafkiri (pusat pikiranku): Terpusat pada kemenangan yang datang dari rahmat Allah. Asywaqi (Kerinduanku): Perang dan perang ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah. Wa Raja’I (Harapanku): Adalah pertolongan Allah, dan kemenangan negara inni atas musuh-musuh Allah.

Hal yang Patut Diteladani dari Al-Fatih

1. Menguasai Banyak Bahasa

        Dalam bukunya Ali Muhammad Ash-Shalabi menulis, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ sedikitnya menguasai tiga bahasa Islam dengan sangat baik yang biasanya dikuasai orang-orang berpendidikan pad zaman itu, yakni bahasa Arab, Persia, dan Turki.

        Selain Ash-Shalabi, Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya juga menyebutkan, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ menguasai Bahasa Yunani dan 6 bahasa lainnya ketika berusia 21 tahun.

        Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada usia itu pulalah A-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel.

        2. Mempelajari Banyak Ilmu

        Ash-Shalabi menulis dalam bukunya bahwa sejak kecil Muhammad Al-Fatih telah belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis. 

        Baca Juga  Semangat Veteran Inspirasi Masyarakat Langkat

        Felix Siauw dalam bukunya juga mengisahkan Sultan Murad, ayah Al-Fatih, meminta para ulama dari berbagai disiplin ilmu untuk mengajari anaknya berbagai mata pelajaran, mulai dari matematika, fisika, astronomi, seni perang praktis, militer, dan ilmu-ilmu lainnya.

        3. Fleksibel, Inovatif dan Penuh Kejutan

        Felix Siauw dalam bukunya menceritakan, Al-Fatih memiliki mata pelajaran favorit, yakni sejarah. Felix menulis, sejarah adalah salah satu cabang ilmu yang sangat dikuasai oleh pemimpin besar dunia Islam, seperti Rasulullāh SAW, Umar bin Khaththab, Khalid bin Walid, dan para sahabat lainnya. 

        Dengan mempelajari ilmu sejarah itulah, menurut Siauw, Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ kemudian tumbuh menjadi seorang yang fleksibel, inovatif, dan penuh dengan kejutan.

        4. Mengambil Pelajaran dari Sejarah Tokoh Lain

        Mengutip dari laman yayasan alfidaacendikia, Siauw menjelaskan dengan mendalami peristiwa sejarah, seseorang bisa mengambil pengamalaman dan pemikiran tokoh yang dibacanya tanpa harus hidup satu zaman dengannya. 

        Selain itu, sejarah memungkinkan seseorang untuk tidak mulai kembali dari titik nol, tapi melanjutkan apa yang telah dibangun oleh orang-orang sebelumnya. Manfaatnya, jalan menuju keberhasilan orang tersebut menjadi lebih dekat. Hal itulah yang dilakukan oleh Al-Fatih. 

        Siauw menyatakan, Al-Fatih tidak menjadikan sejarah sebagai masa lalu yang hanya berfungsi sebagai nostalgia dan romantisme tanpa arah. Namun Al-Fatih mengambil pelajaran dari sejarah sebagai perhitungan dan perencanaan untuk menentukan keputusan di masa depan.

        5. Giat Beribadah

        Melaui pesan singkat, Felix Siauw mengatakan kepada kumparan, “Saya sampaikan, Rasulullah pernah bersabda, ‘Akan dibebaskan Konstantinopel, dan sebaik-baik pemimpin adalah dia.’ dan ini sebuah indikasi yang baik.” 

        Untuk meraih janji Rasulullah itu, tutur Siauw, sang Sultan Muhammad Al-Fatih senantiasa melatih dirinya dengan karakter ksatria dan mendekakan dirinya pada Allah dengan banyak beribadah.

        6. Berani

        Sulṭān Muhammad Al-Fātiḥ terjun sendiri ke medan laga saat perang. Sang sultan tidak gentar berperang melawan musuh dengan pedangnya sendiri. Ash-Shalabi menceritakan, keberanian Al-Fatih tampak dalam sebuah pertempuran di wilayah Balkan. 

        Saat itu pasukan Turki Uṡtmānĩ tengah berhadapan dengan pasukan Bughanda yang dipimpin oleh Steven. Saat itu ada moncong meriam telah diarahkan pada pasukannya, sehingga para pasukan segera tiarap ke tanah.

        Untuk menyemangati pasukannya, Al-Fatih berteriak dengan lantang, “Wahai pasukan mujahidin, jadilah kalian tentara Allāh, dan hendaklah ada dalam dada kalian semangat Islam yang membara.” 

        Kemudian dengan gagah berani ia memegang tameng dan menghunus pedangnya serta segera memacu kudanya berlari ke depan dan tak menoleh pada apa pun.(*) 

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

        Berita Lainnya

        Contact Us