AXIALNEWS.id | Bicara tentang peradaban Islam di Turkiye, rasanya seperti melihat negara dengan sejarah panjang yang sedang menemukan identitasnya di dunia modern.
Dulu, Turkiye adalah pusat Kekhalifahan Utsmaniyah, salah satu kekuatan Islam terbesar yang pernah ada.
Utsmaniyah tidak hanya unggul dalam politik dan militer, tetapi juga dalam seni, budaya, ilmu pengetahuan, dan tata kelola pemerintahan. Mereka menjadi simbol kejayaan Islam di masa lalu.
Warisan Utsmaniyah masih terasa, terutama di Kota Istanbul. Kota ini seperti museum hidup yang memamerkan kejayaan Islam. Salah satu contoh terbaiknya adalah Hagia Sophia, yang awalnya gereja, lalu masjid, kemudian museum, dan kini kembali menjadi masjid. Bangunan ini menjadi simbol perpaduan Islam dan sejarah Turkiye.
Selain itu, Masjid Biru dan Masjid Süleymaniye yang megah menunjukkan keindahan seni arsitektur Islam, menjadi bukti bahwa Islam pernah membawa kemajuan luar biasa.
Namun, perjalanan peradaban Islam di Turkiye tidak selalu mulus. Ketika Kekhalifahan Utsmaniyah runtuh di awal abad ke-20, Turkiye berubah drastis di bawah Mustafa Kemal Atatürk.
Atatürk ingin menjadikan Turkiye negara modern bergaya Barat. Dia memperkenalkan sekularisme besar-besaran, menjauhkan agama dari kehidupan publik. Simbol-simbol Islam seperti jilbab dilarang di tempat umum, azan sempat diwajibkan menggunakan bahasa Turki, dan banyak masjid tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya.
Bagi sebagian orang, langkah ini dianggap sebagai kemajuan. Mereka berpikir agama seharusnya tidak mencampuri pemerintahan. Tetapi bagi umat Islam, ini seperti kehilangan identitas. Walaupun begitu, masyarakat Turkiye tetap menjaga Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dalam beberapa dekade terakhir, nilai-nilai Islam mulai bangkit kembali di Turkiye. Kini, perempuan berjilbab tidak lagi dilarang di universitas atau pemerintahan. Ramadan dan hari raya Islam dirayakan secara terbuka. Kebijakan pemerintah juga semakin mendukung simbol-simbol Islam, seperti ketika Hagia Sophia kembali menjadi masjid.
Namun, kebangkitan ini juga membawa tantangan. Ada kelompok yang mendukung kebangkitan Islam dan ingin Turkiye kembali religius, sementara kelompok lain menganggap sekularisme tetap penting untuk kemajuan. Polarisasi ini terlihat jelas dalam dunia politik. Kebijakan pro-Islam sering mendapat kritik dari kelompok sekuler yang khawatir Turkiye akan kehilangan karakternya yang modern.
Globalisasi menjadi tantangan lain. Turkiye berada di persimpangan antara Eropa dan Asia, sehingga sangat terbuka terhadap pengaruh Barat. Ini membawa kemajuan teknologi dan gaya hidup modern, tetapi sering bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Contohnya, gaya hidup materialistis yang bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan kesederhanaan.
Meskipun begitu, Turkiye menunjukkan banyak hal positif. Mereka membuktikan bahwa Islam dan modernitas dapat berjalan beriringan. Pariwisata halal menjadi contoh sukses, menjadikan Turkiye tujuan utama wisatawan Muslim dengan fasilitas yang ramah Islam seperti makanan halal dan tempat ibadah.
Turkiye juga memainkan peran penting dalam isu-isu dunia Islam, seperti mendukung Palestina, membantu pengungsi Suriah, dan memperjuangkan keadilan bagi umat Islam. Peran ini membuat Turkiye dihormati, meskipun kadang mendapat kritik dari negara Barat.
Peradaban Islam di Turkiye mencerminkan tantangan dunia Islam: bagaimana menjaga identitas di tengah perubahan dunia? Turkiye membuktikan bahwa ini mungkin, meski tidak mudah.
Saya kagum dengan perjalanan Turkiye. Dengan warisan Islam yang kaya dan kemampuan beradaptasi, Turkiye menjadi inspirasi bagi negara-negara Muslim lainnya. Mereka menunjukkan bahwa kemajuan dan nilai-nilai Islam dapat berjalan beriringan, memberikan pelajaran berharga bagi kita semua.(*)

Penulis: Hendri Muliadi, Mahasiswa Prodi Tadris Matematika Pasca UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan