AXIALNEWS.id | Belakangan ini, media sosial dipenuhi konten tentang “cuan cepat”, “saham auto profit”, dan “investasi modal kecil untung besar”. Fenomena ini menarik banyak anak muda untuk ikut terjun ke dunia investasi.
Namun di balik euforia tersebut, ada kenyataan yang jarang dibicarakan: banyak investor muda berinvestasi tanpa memahami dasar-dasar keuangan perusahaan. Akibatnya, bukan keuntungan yang didapat, tetapi kerugian karena keputusan yang spekulatif.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024 menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 12,7 juta, meningkat drastis dibanding tahun 2020. Menariknya, mayoritas investor ini adalah generasi muda di bawah usia 30 tahun.
Meski begitu, survei yang dilakukan oleh IDX dan Bareksa (2023) menemukan bahwa lebih dari 60% investor muda berinvestasi tanpa analisis fundamental. Artinya, banyak keputusan investasi masih didorong oleh tren, rekomendasi influencer, atau emosi sesaat—bukan berdasarkan penilaian objektif terhadap nilai perusahaan.
Padahal, inti dari fundamental corporate finance adalah memahami bagaimana perusahaan dikelola, dinilai, dan didanai. Konsep seperti risk and return, time value of money, capital budgeting, dan cost of capital seharusnya menjadi dasar sebelum seseorang menaruh uangnya pada instrumen apa pun. Tanpa pemahaman ini, investasi hanya menjadi permainan keberuntungan.
Dalam teori keuangan perusahaan, keputusan investasi yang baik selalu mempertimbangkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil. Semakin besar potensi keuntungan, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi.
Namun di lapangan, banyak investor pemula hanya fokus pada potensi cuan tanpa memahami risiko yang menyertainya. Prinsip time value of money pun sering diabaikan, padahal nilai uang saat ini tidak sama dengan nilai uang di masa depan. Investor yang memahami hal ini akan lebih berhati-hati dalam menilai proyek jangka panjang dan menghitung arus kas dengan realistis.
Pakar keuangan Eugene F. Brigham dalam bukunya Fundamentals of Financial Management menegaskan bahwa keputusan keuangan harus didasarkan pada hubungan antara risiko, pengembalian, dan nilai perusahaan.
Sayangnya, banyak anak muda melihat harga saham naik sebagai tanda kesuksesan, padahal bisa jadi nilai intrinsik perusahaan tidak sebanding dengan harga pasarnya. Warren Buffett pernah berkata, “Risk comes from not knowing what you’re doing.” Risiko terbesar justru datang dari ketidaktahuan terhadap apa yang sedang dilakukan.
Maka dari itu, literasi keuangan berbasis pemahaman korporat perlu diperkuat, terutama di kalangan mahasiswa dan investor muda. Belajar fundamental of corporate finance bukan sekadar untuk nilai akademik, tetapi untuk membangun pola pikir rasional dalam mengambil keputusan finansial.
Sebelum membeli saham, pelajari laporan keuangan perusahaan: bagaimana pendapatannya, arus kasnya, serta struktur modalnya. Dengan begitu, keputusan investasi bukan hanya ikut tren, tapi didasarkan pada analisis nilai yang matang.
Kampus juga dapat berperan penting dalam hal ini. Mata kuliah seperti Fundamental of Corporate Finance sebaiknya tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi diterapkan melalui simulasi investasi, studi kasus, dan diskusi pasar modal. Hal ini akan membantu mahasiswa memahami bagaimana teori keuangan bekerja dalam dunia nyata, sekaligus membentuk calon investor yang bijak dan beretika.
Investasi memang penting, tetapi tanpa fondasi pengetahuan yang kokoh, investasi hanyalah spekulasi yang dibungkus dengan optimisme. Generasi muda harus belajar bahwa memahami keuangan perusahaan bukanlah hal membosankan, melainkan kunci untuk bertahan dan tumbuh di dunia finansial yang penuh ketidakpastian. Pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita mendapat untung, tetapi seberapa kuat dasar keputusan keuangan yang kita bangun untuk masa depan.(*)
Penulis: Jazira Az-zahra, Mahasiswi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia.