Gunung Emas dan Lautan Migas Negeri Bertuah, Nantikan Keturunan Kesultanan Langkat Berhati Mulia

Keindahan suasana senja alam Kabupaten Langkat, Sumut. Titik lokasi di Devisi III Kebun Bekiun PT LNK, Desa Perkebunan Bekiun, Kecamatan Kuala. Diabadikan pada 2 Agustus 2025, pukul 06.15 WIB. (Rozi/axialnews)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Langkat merupakan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Luas wilayahnya sekitar 6.273,29 km², miliki 240 desa dan 37 kelurahan menyebar di 23 kecamatan, jadikan kabupaten terluas kedua di Sumut setelah Mandailing Natal.

Kesultanan Langkat adalah kerajaan Islam, berdiri sejak abad ke-16, cikal bakal terbentuknya Kabupaten Langkat saat ini, kini usianya 275 tahun pada 17 Januari 2025. Setelah Sultan Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah menyatakan dukungannya atas Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Kesultanan Langkat resmi bergabung pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak kemerdekaan, Tengku Amir Hamzah sosok pertama kali memimpin Kabupaten Langkat sebagai Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat setelah diangkat Presiden Soekarno, berkedudukan di Binjai pada 29 Oktober 1945. Ia menjabat posisi tersebut hingga wafat pada 20 Maret 1946. Jabatan Tengku Amir Hamzah tersebut setingkat Bupati.

Amir Hamzah dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, pada 28 Februari 1911. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil, merupakan saudara kandung Sultan Mahmud (1927-1948), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.

Daerah berjuk negeri bertuah dan negeri para ulama ini sejak dulu makmur dan sejahtera dari hasil alamnya, hasil kekayaan terutama dari perkebunan karet dan minyak bumi di Pangkalan Brandan. Pengelolan hasil bumi ini pernah bekerjasama dengan Belanda.

Cerita Rakyat

Dari cerita rakyat beredar, hingga kini Langkat masih memiliki banyak kekayaan alam bawah tanah melimpah, yakni gunung emas, minyak dan gas bumi (migas) yang masih tersimpan rapi, tersembunyi.

Baca Juga  Buka Puasa Kemenag Langkat, Galang Donasi untuk Palestina Rp 100 Juta

Bahkan dari kabar beredar, laut migas di Langkat saat ini jumlahnya jauh berlipat – lebih besar dari yang pernah di hasilkan pada masa kejayaan Pangkalan Brandan, cikal bakal Pertamina. Massa keemasan tambang minyak bumi di Pangkalan Brandan, dahulunya bahkan mampu menyumbangkan 70 persen dari total nilai APBN saat itu.

Keberadaan lautan migas, disinyalir berada di bagian Langkat Hilir dan Teluk Aru. Sementara gunung emas, keberadaanya di wilayah Langkat Hulu dan Teluk Aru berdekatan dengan taman nasional gunung leuser (TNGL). Bahkan ada yang menyebutkan tanah melayu ini juga menyimpan kekayaan uranium di wilayah Teluk Aru.

Informasinya, titik pasti keberadaan gunung emas dan lautan migas tersebut sejak dahulu telah diketahui keluarga Kesultanan Langkat, dan terus dipesankan kepada keturunan darah biru dari turun temurun hingga kini.

Dari salah satu keturunan darah biru ini diramalkan bakal terpilih secara alami, sosok yang mampu membuka kunci ghaib gunung emas dan lautan migas untuk bisa kelola secara benar. Sosok terpilih ini memiliki tanda lahir yang hanya bisa diketahui kebenarannya oleh keturunan Tuan Guru Babussalam, Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqsyabandi.

Baca Juga  Peduli Deli, Sektor IV Sosialisasikan Jaga Kebersihan Sungai

Sosok darah biru terpilih ini merupakan pilihan alam yang memiliki hati mulia, berkehidupan dengan pedoman syariat Islam, bersifat mengayomi, melindungi, merawat, menyejahterakan umat. Hasil kekayaan alam yang dibuka dari tangannya, bakal memakmurkan rakyat dan meningkatkan pendapatan negara untuk kemajuan pembangunan nusantara.

Letak Geografis Langkat

Kesultanan Langkat didirikan oleh Dewa Shahdan pada tahun 1568 setelah melarikan diri dari serangan Kesultanan Aceh dan mendirikan komunitas yang menjadi cikal bakal kesultanan tersebut.

Namun sumber lainnya menyebutkan bahwa Raja Kahar mendirikan kesultanan pada tanggal 17 Januari 1750 dan tanggal tersebut kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Langkat. Raja Kahar merupakan raja pertama yang memegang takhta di Kota Dalam, terletak di antara Stabat dan Kampung Inai.

Secara geografis Kabupaten Langkat berada pada 3o 14′ 00″ – 4o 13′ 00″ Lintang Utara, 97o 52′ 00″ – 98o 45′ 00″ Bujur Timur dan 4 – 105 m dari permukaan laut.

Baca Juga  Yayasan Fondasi Hidup Jajaki Kerjasama Strategis di Berbagai Bidang

Perbatasan Area Kabupaten Langkat:

  • Di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Aceh dan Selat Malaka.
  • Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo.
  • Di sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Aceh.
  • Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai.

Berdasarkan luas daerah menurut kecamatan di Langkat, luas daerah terbesar adalah kecamatan Bahorok dengan luas 1.101,83 Km2 atau 17,59 persen diikuti kecamatan Batang Serangan dengan luas 899,38 Km2 atau 14,36 persen.

Sedangkan luas daerah terkecil adalah kecamatan Binjai dengan luas 42,05 Km2 atau 0,67 persen dari total luas wilayah Kabupaten Langkat.

Wilayah Kabupaten Langkat Meliputi:

  • Kawasan hutan lindung seluas +- 266.232 Ha (42,51 %) dan
  • Kawasan lahan budidaya seluas +- 360.097 Ha (57,49 %).
  • Kawasan hutan lindung terdiri dari kawasan pelestarian alam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) seluas +- 213.985 Ha.
  • Kawasan Timur Laut seluas +- 9.520 Ha.
  • Kawasan Penyangga seluas +- 7.600 Ha.
  • Kawasan Hutan Bakau seluas +- 20.200 Ha, serta
  • Kawasan lainnya +- 14.927 Ha.(*)

Penulis: Anoriyan Yusuf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us