AXIALNEWS.id | Nasib seseorang dimasa depan siapa yang tahu, jadi soal rezeki tidak bisa remehkan.
Seperti kisah sukses Otto Toto Sugiri, dari sosok yang dulu kesulitan mencari pekerjaan di bidang teknologi, kini ia menjelma menjadi salah satu orang terkaya Indonesia.
Bagaimana perjalanan luar biasa ini dimulai hingga mampu mengubah wajah ekonomi digital Indonesia?
Otto Toto Sugiri dikenal sebagai salah satu pelopor teknologi informasi di Indonesia.
Ia dijuluki “Bill Gates-nya Indonesia” karena keberhasilannya membangun pusat data atau data center yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.
Melalui perusahaan yang ia dirikan, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), Otto Toto Sugiri menghadirkan infrastruktur digital berskala besar yang menopang ribuan sistem penting, mulai dari layanan perbankan, e-commerce, hingga telekomunikasi.
Berkat perannya, aktivitas digital di Indonesia bisa berjalan lancar, cepat, dan aman.
Kesuksesan DCI membawa Otto Toto Sugiri ke puncak daftar orang terkaya di negeri ini.
Berdasarkan Forbes, ia kini berada di peringkat ke-7 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai Rp209.27 triliun.
Dari seorang insinyur hingga pemimpin perusahaan miliaran dolar, kisah Otto Toto Sugiri menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan inovasi bisa mengubah masa depan.
Bagaimana perjalanan hidup Otto Toto Sugiri hingga mampu mencapai kesuksesan sebesar ini?
Perjalanan karier Otto Toto Sugiri dimulai setelah ia menempuh pendidikan di RWTH Aachen University, Jerman, dan meraih gelar Sarjana Teknik Elektro serta Magister Teknik Komputer pada tahun 1980.
Meski berpeluang membangun karier di luar negeri, Otto memilih kembali ke Indonesia untuk merawat ibunya yang sakit.
Saat itu, dunia teknologi di Indonesia masih berada pada tahap awal. Lapangan kerja untuk programmer hampir tidak ada.
Otto bahkan pernah berkata, “Tahun 1981–1982 sangat sulit. Cari kerja programmer hampir tidak ada”.
Namun, justru di masa sulit itu Otto Toto Sugiri menemukan panggilan sejatinya, yaitu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Salah satu proyek awal Otto Toto Sugiri adalah membuat software yang membantu nelayan membeli peralatan secara kredit.
Pada tahun 1983, Otto Toto Sugiri bergabung dengan Bank Bali, perusahaan keluarga yang memintanya mengembangkan sistem IT internal.
Di sana, ia membangun sistem komputerisasi untuk back office, akuntansi, dan pengelolaan data nasabah.
Enam tahun kemudian, dengan bekal pengalaman dan visi besar, Otto Toto Sugiri memutuskan untuk melangkah mandiri.
Pada tahun 1989, ia bersama beberapa rekan mendirikan Sigma Cipta Caraka, yaitu sebuah perusahaan teknologi lokal yang berfokus menyediakan solusi IT untuk sektor perbankan.
Keputusan ini bertepatan dengan masa ekspansi besar-besaran di dunia perbankan Indonesia, di mana jumlah bank melonjak dari 111 pada tahun 1988 menjadi 240 pada tahun 1994.
Sigma Cipta Caraka hadir di saat yang tepat, menawarkan sistem terkomputerisasi untuk pencatatan transaksi, pengelolaan nasabah, hingga sistem akuntansi digital.
Dalam waktu singkat, strategi tersebut membuahkan hasil besar, Sigma mencatat keuntungan hingga US$1.2 juta dalam setahun.
Setelah sukses membangun Sigma Cipta Caraka, Otto Toto Sugiri tidak berhenti berinovasi.
Pada tahun 1994, Otto mendirikan Indointernet atau Indonet, salah satu penyedia layanan internet pertama di Indonesia, jauh sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tidak hanya itu, ia juga mendirikan BaliCamp, anak perusahaan Sigma yang berfokus pada pengembangan software dan pelatihan talenta IT lokal.
Melalui BaliCamp, Otto Toto Sugiri berusaha membangun ekosistem teknologi yang berkelanjutan di Indonesia.
Sayangnya, tragedi Bom Bali 2002 membuat operasional BaliCamp terhenti total.
Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk krisis finansial Asia 1998, Sigma tetap bertahan dengan kondisi keuangan sehat, bahkan tanpa hutang.
Hingga akhirnya pada tahun 2008, Otto menjual 80% saham Sigma kepada PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) senilai sekitar US$35 juta, dan dua tahun kemudian melepas sisa kepemilikannya.
Setelah penjualan tersebut, Otto sempat mempertimbangkan untuk pensiun.
Namun semangat inovasinya belum padam. Melihat potensi besar di bidang infrastruktur digital, Otto kembali beraksi dengan mendirikan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada tahun 2011.
DCI fokus menyediakan layanan pusat data atau data center berskala internasional.
Di bawah kepemimpinan Otto Toto Sugiri, DCI Indonesia tumbuh dengan standar global.
Pada tahun 2014, DCI berhasil meraih sertifikasi Tier IV, kategori tertinggi untuk keandalan pusat data di dunia.
Sertifikasi ini menandakan bahwa sistem DCI memiliki redundansi penuh dan mampu beroperasi meski terjadi gangguan komponen, menjamin kestabilan layanan hingga tingkat 99.995% uptime.
Sebagai gambaran, tingkat keandalan 99.995% berarti sistem DCI hanya berpotensi mengalami downtime sekitar 26 menit per tahun, atau sekitar 2 menit per bulan.
Untuk industri yang sangat bergantung pada transaksi digital, seperti perbankan, fintech, dan e-commerce, angka ini adalah jaminan yang luar biasa penting, karena bahkan satu jam gangguan bisa menyebabkan kerugian besar.
DCI juga membangun sistem cadangan listrik penuh, UPS dan generator, serta jaringan redundan agar tetap beroperasi dalam kondisi ekstrem, termasuk saat pemadaman listrik atau gangguan teknis.
Berkat keunggulan ini, DCI kini dipercaya oleh lebih dari 40 perusahaan telekomunikasi dan 120 institusi keuangan di Indonesia.
Puncak kiprah Otto Toto Sugiri datang pada Januari 2021, ketika DCI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Hingga 7 Oktober 2025, total kekayaan Otto Toto Sugiri tercatat mencapai sekitar US$12.2 miliar, atau setara dengan Rp202.1 triliun, dengan kurs Rp16.568,70 per dolar AS.
Dengan jumlah sebesar itu, Otto kini menempati peringkat ke-7 sebagai orang terkaya di Indonesia dan berada di urutan ke-235 dalam daftar miliarder dunia versi Forbes.(*)
Sumber: inilah.com