Catatan Syafrizal Manurung,
AXIALNEWS.id | Di posko penanganan banjir dan longsor di Dusun Purba Tua, Desa Marsada, Sipirok, suasana kacau bergerak seperti gelombang, isak keluarga yang kehilangan rumah, teriakan relawan yang saling memberi arahan, bau tanah basah yang belum sempat mengering.
Di depan RM Sinyar-Nyar, sebuah tenda kesehatan dan dapur umum berdiri menjadi titik tumpu dari mereka yang mencari selamat dan mereka yang membantu.
Dalam hiruk-pikuk itu, ada satu adegan yang merayap diam-diam ke dalam ruang batin siapa pun yang melihatnya. Seorang perempuan, Ny Tengku Nova Mulyana Hanafi istri dari personel Polres Tapanuli Selatan. Berdiri di antara manusia-manusia yang kelelahan.
Wajahnya tidak menuntut perhatian, tidak pula sibuk mencari sorot kamera; ia hanya memperhatikan satu hal, seorang bayi yang terus menangis di pelukan seorang wanita lanjut usia.
Bayi itu terpisah dari ibunya saat banjir menyeret rumah warga. Tangisnya pecah tanpa henti, seperti mengetuk dinding tenda darurat, memanggil siapa pun yang masih punya sisa tenaga untuk peduli. Lapar dan lelah membuat tubuh mungil itu bergetar, sementara para petugas sibuk menyelamatkan nyawa lain.
Di titik rapuh itulah naluri seorang ibu mengambil alih. Ny Tengku Nova menghampiri, meminta izin sebentar, lalu membawanya ke musholla kecil di sisi posko. Tempat yang biasanya menjadi rumah doa, kini berubah menjadi ruang sunyi bagi keputusan yang lahir dari hati.
Tanpa membawa embel-embel jabatan, tanpa niat mengundang simpati, ia menyusui bayi itu. Tindakan sederhana, namun menyimpan gema kemanusiaan yang panjang.
Dalam dekapan hangat seorang perempuan yang bukan ibunya, tangis bayi itu perlahan mereda. Tubuh mungilnya yang tadinya menegang luluh menjadi tenang, lalu tertidur, seakan dunia yang kacau di luar tenda tidak sempat menyentuhnya.
Di tengah bencana yang merenggut begitu banyak hal, momen itu menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalan untuk muncul, kadang dalam bentuk paling sederhana, paling senyap, tapi paling dalam.
Di posko itu, pada hari itu, seorang ibu bhayangkari memilih untuk menjadi tempat pulang bagi seorang bayi yang kehilangan semua. Dan di situ pula, orang-orang dewasa di sekelilingnya kembali belajar bahwa empati kadang hadir sebagai tindakan kecil yang mengubah sesuatu jauh di dalam diri kita sendiri.(*)