Alasan Pemerintah Tolak Bantuan Internasional yang Tidak Kamu Ketahui

Ilustrasi. (shutterstock)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Ketika kebakaran hutan besar terjadi dan dunia internasional menawarkan bantuan, Menteri Lingkungan Hidup Arsa menolak dengan dingin. Publik mencaci.

Tapi hanya sedikit yang tahu: beberapa drone satelit bantuan itu bukan untuk memadamkan api, melainkan memetakan kandungan lithium dan akses tersembunyi ke kawasan tambang.

Ia mencium niat jahat, tapi ia tidak bisa membuktikan. Jadi ia hanya bisa melawan dengan satu cara: menunda bantuan… sambil mempertaruhkan jabatannya.

Kontrak kerjasama “lingkungan hijau” yang diteken dengan bank internasional ternyata hanya topeng. Arsa pura-pura menyetujui, lalu membocorkan drafnya ke para akademisi secara anonim.

Isinya mengejutkan: sebagian besar dana akan digunakan untuk audit-asal-jadi, bukan untuk perbaikan lingkungan. Media tetap menyalahkan Arsa. Tapi gerakan bawah tanah mulai tumbuh—forum ilmuwan muda, jurnalis independen, pelajar, dan petani mulai sadar: ada permainan besar yang sedang terjadi.

Akhirnya, Arsa dipecat dengan alasan “merusak citra negara.” Namun sesaat setelah pemecatannya, satu video dari pelajar Kalimantan meledak: memperlihatkan drone asing menembakkan sinyal elektromagnetik ke langit, lalu hujan turun deras tak lama kemudian, menyebabkan banjir bandang di wilayah tambang aktif.

Baca Juga  BPS & Pemko Medan Kolaborasi 'Medan Dalam Angka 2023'

Semua orang yang tadinya tertawa… terdiam. Publik mulai sadar, semua yang Arsa ucapkan bukanlah lelucon. Itu adalah peringatan yang mereka abaikan karena terlalu nyaman mempercayai apa yang mudah dikunyah.

Arsa menghilang. Tapi beberapa bulan setelahnya, muncul satu dokumen digital berjudul “Kesadaran Tingkat G.” Isinya menjelaskan bahwa sistem informasi negara dibagi dalam level: dari tingkat 0 (rakyat awam) hingga tingkat G (tim penjaga bangsa yang tak boleh bicara). Di bagian akhir dokumen, tertulis pesan misterius:

“Kalau kamu tertawa pada orang yang sedang melindungimu, kamu bukan sedang bebas… kamu sedang dikendalikan.” Kini, pelan-pelan, nama Arsa dibicarakan kembali. Tapi tidak dengan ejekan. Di forum-forum kecil, kelas-kelas ilmiah alternatif, dan komunitas anak muda, ia mulai dilihat sebagai legenda.

Bukan karena ia sempurna. Tapi karena ia berani jadi musuh publik demi mengaktifkan kesadaran yang telah lama mati: bahwa tidak semua bencana itu alami, dan tidak semua berita itu kebenaran.

Dan pada akhirnya, pelajaran paling menyakitkan tapi paling penting dari cerita ini adalah: Indonesia tak akan pernah benar-benar merdeka kalau rakyatnya terus mengejek orang-orang yang melindunginya dengan cara yang tak mereka pahami.(*)

Operasi Tingkat G Memang Terlihat Bodoh

Kadang, yang terlihat bodoh… sedang berperang di level yang tak kamu bayangkan. Dari awal, publik sudah sepakat: Dr. Arsa Wibowo adalah lelucon.

Baca Juga  Rico Waas Salurkan Bantuan Logistik Korban Kebakaran di Kelurahan Kesawan

Menteri Lingkungan Hidup yang bicaranya seperti penggemar teori konspirasi, menyebut hujan bisa diretas, dan banjir sebagai sabotase sengaja. Meme-meme tentangnya viral. Komedian stand-up menjadikannya bahan tawa. Media menyebutnya “Menteri Ngaco.”

Tapi jauh dari sorotan, Arsa tidak sedang berusaha dimengerti—ia sedang menjalankan operasi tingkat G: menyebar benih kesadaran lewat keraguan, bukan penjelasan.

Ia tahu narasi publik tidak bisa dilawan dengan klarifikasi biasa. Terlalu banyak sensor. Terlalu banyak buzzer. Jadi ia melakukan hal paling nekat: menjadi bahan tertawaan nasional. Di balik wajahnya yang datar saat diwawancarai, di balik kalimat-kalimat anehnya yang viral, ia menyisipkan kode-kode.

Beberapa ilmuwan muda mampu membaca kode tersebut dan mulai tertarik. Mereka menyelidiki ucapannya tentang ionisasi partikel, dan malah menemukan dokumen internasional rahasia tentang proyek geo-engineering yang selama ini dikubur.

Baca Juga  Souvenir Bank Sumut Stabat Meriahkan Family Gahtering PWI Sumut

Salah satu hacker lingkungan yang terhubung dengannya mengungkap anomali pola cuaca. Curah hujan turun drastis bukan karena perubahan iklim semata, tapi karena interferensi sinyal satelit yang menekan awan di wilayah tertentu. Arsa pernah berkata “awan bisa diseret”—semua orang menertawainya.

Tapi video drone menunjukkan awan menggumpal tak wajar di atas titik eksplorasi tambang nikel. Sesuatu sedang dimainkan.

Dan Arsa adalah orang pertama yang berani mengatakan, walau dengan cara yang paling berisiko: membuat dirinya tampak seperti orang gila. Setelah laporan-laporannya ditolak berulang kali oleh DPR dan kementerian lain, Arsa membentuk sistem pemantauan alternatif: crowdsourcing berbasis foto-foto dari petani, nelayan, pelajar, hingga drone murah milik warga.

Ia tahu seluruh jaringan sensor negara sudah dikendalikan. Jadi rakyatlah yang ia ajak mengawasi langsung langit dan tanah mereka. Rakyat tidak diminta percaya padanya. Mereka diminta mengumpulkan data sendiri. Dan dari situlah kebenaran perlahan muncul.(*)

Sumber dari Buku AI… Kenapa Aku WNI, halaman Menteri yang Disalahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us