AXIALNEWS.id | Apakah dia? Anak sekecil itu yang telah mampu memetik hikmah dari bencana dahsyat 26 November 2025 di Provinsi Aceh.
Bencana banjir dan longsor yang telah memporak-porandakan permukiman warga di kampung, desa dan perkotaan hingga menelan banyak korban jiwa, korban hilang, dan menyeret ribuan jerit rintihan masuk dalam derita nestapa begitu pilu.
Ya itu kenyataan pahit! Dampak kengerian bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Sumatera: Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Apakah bencana itu Rahmat Tuhan? Agar manusia kembali tersadar untuk menjaga alam, dan terlepas dari keserakahan yang merusak hutan demi keuntungan sepihak.
Ulama besar, Ibnu Qoyyim rahimahullah pernah menerangkan, musibah adalah bagian dari kenikmatan besar.
Dalam kitabnya Miftah Daaris Sa’aadah, ia menuliskan bahwa Allah SWT menempatkan musibah, bencana, dan penderitaan sebagai rahmat bagi hamba-Nya.
Ungkapan ini mungkin saja mengajarkan arti ketabahan untuk siapa saja yang beriman dan percaya akan adanya hikmah.
Dari kejauhan salah satu wilayah di Serambi Makkah, tepatnya di Gampung Bundar Kecamatan Karang Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tersingkap senyum dan tawa begitu ramah dari pipi sepasang bocil (bocah cilik/anak kecil) kakak-beradik.
Momen itu ditemukan dari perjalanan panjang berliku menembus daerah terisolir jauh dari pandangan mata dan jangkauan keramaian manusia, serta hambatan akses jalan berdebu dan becek/berlumpur akibat dampak bencana.
Momen indah yang tak sengaja ditemukan sekelompok relawan yang dipandu seorang Brimob Polri ditengah jalan, saat mereka nekat menembus batas atas nama kemanusiaan.
Berangkat dari Kecamatan Stabat, Langkat pukul 10.30 WIB pada 12 Desember 2025, bertujuan mengirim bantuan logistik ke salah satu daerah paling terisolir di Desa Pantai Tinjau, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.
M Nuh, salah seorang relawan asal Kabupaten Langkat, Sumut yang sempat mengabadikan momen indah itu lewat ponsel genggamnya saat diperjalanan.
Ketika mobil yang ditumpanginya berada di belakang korban bencana, yakni dua bocil bersama keluarganya berkendara becak bermotor reok ditengah gumpalan debu tebal jalanan.
Masker yang dikenakan sebagai pelindung abu jalan, tak bisa menutupi senyum manis dan tawa ramah yang diisyaratkan dari wajah mungilnya.
Ayah sebagai pengemudi, ibu berada di belakangnya, lalu ada seorang kakak perempuan remaja berada di bak becak posisi depan. Sementara dua saudara kecil itu duduk diposisi belakang bak becak, sambil santai bercengkrama menghadap arah belakang tanpa sendal melekat di kakinya.
“Kami melihat mereka riang bercanda, dan sesekali tersenyum. Menurut ku, itu momen indah ditengah kengerian kondisi lingkungan pasca bencana,” sebut M Nuh pada Sabtu (13/12/2025) di Stabat.
Sesekali dari salah satunya melirik ke arah ibunya. Entahlah, sekedar menyapa atau untuk menegaskan ke ibunya, kalau dirinya baik-baik saja tetap bahagia dalam kondisi kacau balau, asal masih bisa bersama.
Entah apa saja isi bungkusan plastik yang dipegang bocil pria itu. Pastinya, mereka tengah tersenyum dalam derita pasca bencana banjir longsor yang menyapu kampung halamannya.
Entah apa dalam benaknya, atau mungkin mereka berdua belum mengerti dampak besar bencana yang menyusahkan hidup ayah ibu dan sanak saudaranya.
Bencana yang membuat mereka tak bersekolah, bencana yang membuat mainannya hilang, bencana yang mengakibatkan tak bisa makan, minum serta bermain leluasa dengan teman seperti hari – hari sebelumnya.
Bencana yang memaksa mereka menjalani hidup tak layak, akibat dasar kebutuhan hidup tak bisa terpenuhi seperti biasa, misal kebutuhan sembako dan air bersih.
Dan entah apa kesalahan kedua bocil itu dan ribuan bocil lainnya, hingga harus ikut menanggung akibat dari kerusakan alam yang mengundang banjir dan longsor.
“Kami kagum saat melihatnya, dan mobil kami mengejarnya untuk memberikan bantuan beragam sembako. Semoga bantuan ala kadarnya ini mempertahankan senyum manisnya hingga dampak bencana berlalu, berkehidupan layak seperti sebelumnya,” harapan M Nuh, Ketua Generasi Mahasiswa Pujakesuma Langkat.
Menurut M Nuh, sepanjang menyalurkan batuan logistik korban bencana Langkat dan Aceh, dirinya menilai kebutuhan paling mendesak adalah pasokan air bersih, air minum, makanan siap saji, obat-obatan, susu bayi, pampers orang dewasa, pampers bayi, dan pembalut.
“Untuk baju layak pakai, beras dan sembako lainnya sudah banyak yang memberi, baik dari pemerintahan, relawan dan pihak lainnya,” ucap M Nuh.
Saat itu, sebut M Nuh, pihaknya membawa bantuan logistik berupa air bersih, air mineral, beras, indomie, pakaian layak pakai, lilin, autan, paket alat kebersihan lengkap seperti pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, dan sampo.
Usai menyalurkan bantuan, rombongan bergegas kembali dan pukul 22.30 WIB tiba di Stabat, membawa kesedihan untuk bertekad kembali menghimpun logistik dan kembali disalurkan menolong saudara sebangsa yang tertimpa bencana.
Terakhir, M Nuh berpesan agar penanganan bencana alam di Sumatera terus dilakukan secara inklusif, terkoordinasi, dan berbasis pada prinsip keadilan sosial.
Pemerintah perlu memastikan distribusi bantuan menjangkau seluruh wilayah terdampak, termasuk kawasan terisolir, melalui sinergi lintas sektor dan penguatan koordinasi pusat–daerah.
Dirinya juga menyinggung, peran relawan adalah modal sosial strategis yang patut diapresiasi sebagai mitra negara dalam respon kemanusiaan.(*)
Editor: Riyan