AXIALNEWS.id | Tekanan ekonomi mulai dirasakan para penyintas dua bulan setelah banjir bandang melanda Kota Padang, Sumatera Barat, pada November 2025. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan, bantuan yang sempat mengalir deras di awal bencana kini perlahan berhenti.
Data Pemerintah Kota Padang mencatat, sebanyak 67.563 jiwa terdampak langsung banjir bandang yang melanda lima dari 11 kecamatan. Kerusakan rumah mencapai 5.523 unit, terdiri dari 546 unit rusak berat, 2.174 unit rusak sedang, dan 2.949 unit rusak ringan.
Kini, puluhan ribu korban masih bertahan di hunian sementara (huntara), rumah kontrakan melalui Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun sisa rumah lama yang berada di wilayah rawan bencana.
Bantuan Menipis, Warga Kembali Bertahan Sendiri
Dapur umum yang sebelumnya memasok makanan bagi penyintas sudah berhenti beroperasi. Bantuan pangan yang tersisa umumnya berupa beras, mi instan, dan telur. Untuk memenuhi kebutuhan lain, warga mulai kembali bekerja meski dalam kondisi terbatas.
Afrizal (47), penyintas banjir bandang yang kini tinggal di huntara Kampung Nelayan, Lubuk Buaya, Koto Tangah, mulai berpikir kembali bekerja sebagai buruh pertanian.
Setelah dua bulan tinggal di huntara, pasokan makanan yang sebelumnya datang dua kali sehari sudah tidak ia terima dalam dua pekan terakhir.
“Beruntung mie instan dan beras dari bantuan pemerintah dan masyarakat masih saya simpan. Itu yang belakangan saya makan,” ujarnya, ditemui usai menyantap mi instan cup dan nasi dingin sisa semalam.
Keinginan untuk makan dengan lauk lain kerap terhalang kondisi ekonomi. Jika pun menerima uang bantuan, Afrizal mengaku lebih memilih memberikannya kepada sang istri untuk ongkos dan kebutuhan sekolah anak.
Ia juga harus mengeluarkan uang sekitar Rp20.000 setiap dua hingga tiga hari untuk membeli bensin demi mengecek ternak di dekat rumahnya di Kecamatan Pauh, berjarak sekitar 23 kilometer dari huntara.
“Ternak itu saya titipkan ke teman, selama saya terdampak teman yang mengurus. Tapi tidak mungkin saya lepas tangan saja karena ia sudah berbaik hati,” ujarnya.
Selama ini, kebutuhan tersebut dipenuhi dari sisa uang donasi relawan dan masyarakat. Bahkan tabungan yang semula disiapkan untuk biaya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) anaknya ikut terpakai.
Ingin Kembali Jadi Buruh
Afrizal sempat kembali bekerja sebagai buruh panen padi beberapa hari lalu dan menerima upah harian Rp160.000.
“Beruntung ia mau mengajak saya untuk memanen. Dapat upah Rp160 ribu, ia belikan ke bensin dan berikan pada anaknya untuk sekolah,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, ia menyadari peluang kerja itu kian terbatas. Kekeringan pascabanjir bandang melanda lahan pertanian di Kota Padang.
Awalnya hanya berdampak di Kecamatan Pauh dan Kuranji, kini meluas ke Kecamatan Koto Tangah, Nanggalo, dan Padang Selatan. Total lahan pertanian terdampak mencapai 2.912 hektare.
“Jika tidak ada pilihan lain, rencana saya akan bekerja di sungai, memuat pasir atau batu. Saya sudah biasa bekerja kasar,” ujarnya.
Harapan pada Intervensi Pemerintah
Penyintas lain, Ade Erma, mengaku kondisi ekonomi di huntara semakin berat. Ia berharap pemerintah hadir melalui bantuan usaha atau lapangan pekerjaan bagi korban banjir bandang.
Untuk jangka panjang, Ade berharap pembangunan hunian tetap (huntap) segera direalisasikan. Sejauh ini, Pemerintah Kota Padang baru menyiapkan lahan seluas 11 hektare untuk pembangunan 600 unit huntap di tiga lokasi berbeda.
“Ini sudah bulan kedua kami di huntara. Kami berharap huntap bisa segera direalisasikan. Tidak masalah lokasinya dimana, yang penting kami sudah jelas dimana tinggal bersama keluarga,” ujarnya.
Sumber: kompas.com