Akar Penyebab Lonjakan Harga Sembako Menurut TPID Langkat & Solusinya

Momen penyerahan penghargaan mobil operasional dinas oleh Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut. Suharman Tabrani diterima Pj Bupati Langkat M Faisal Hasrimy, Selasa (26/11/24) lalu, di Kantor Perwakilan BI Sumut. Penghargaan ini diterima Pemkab Langkat dari Bank Indonesia (BI) sebagai apresiasi atas keberhasilan mengatasi inflasi. (axialnews)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Masyarakat Langkat semakin terbebani memenuhi kebutuhan pangan dan gizi harian akibat lonjakan signifikan sejumlah harga sembako.

Kebutuhan pokok seperti beras, ikan laut dan daging ayam potong (boiler) melonjak drastis, memaksa kalangan masyarakat kurang mampu menjerit hingga mengancam peningkatan angka stunting.

Kenaikan harga ini seolah tanpa kompromi dan tak mau tahu dengan keadaan ekonomi kalang bawah. Pengeluaran lebih tinggi dari penghasilan, mereka ekonomi lemah semakin menderita.

Harga beras di pasaran, seolah terus memupuk penderitaan rakyat jelang perayaan hari kemerdekaan ke-80 bangsa Indonesia.

BERITA TERKAIT:
Lonjakan Harga Sembako Ancam Peningkatan Angka Stunting di Langkat

Sekdakab Langkat Amril yang juga selaku Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Langkat memaparkan akar penyebab dan solusi dari kenaikan harga sejumlah sembako, Jumat (8/8/2025).

Baca Juga  Legal Tech yang Tumbuh Bersama Para Lawyer: Menyambut Rilis Terbaru Legal Plus

Begini menurut TPID mengenai penyebab kenaikan harga sembako di Pasar Stabat dan solusi yang dilakukan.

  • Harga Daging Ayam Potong (Broiler)

Daging ayam alami kenaikan dari harga Rp 28 ribu per kg menjadi Rp 36 ribu per kg (selisih kenaikan Rp 8 ribu).

Menurut TPID: Diakibatkan terjadinya penurunan produksi ayam, lantaran kecendrungan peternak menjual ke perusahaan poktan.

Solusi TPID: –

  • Harga Ikan Laut

Kenaikan harga ikan dencis dari Rp 30 ribu – Rp 35 ribu per kg, kini harganya naik hingga 60 persen lebih, mencapai Rp 50 ribu per kg.

Untuk ikan nila harganya juga alami kenaikan, biasanya Rp 35 per kg naik menjadi Rp 45 ribu per kg.

Menurut TPID: Hal ini disebabkan karena menurunnya hasil tangkapan nelayan beberapa minggu terakhir. Sehingga pedagang mengambil ikan dari daerah lain di luar daerah biasanya. Hal ini menyebabkan operasional meningkat dan harga ikan juga sedikit mengalami kenaikan.

Solusi TPID: –

  • Harga Beras
Baca Juga  Imbas Gangguan Perjalanan Commuter Line di Stasiun Jakartakota, KAI Daop 2 Bandung Batalkan Perjalanan KA 137 Parahyangan Relasi Bandung – Gambir

Beras merek shincan ukuran 5 kg naik dari harga Rp 68 ribu menjadi Rp 84 ribu (selisih kenaikan Rp 16 ribu).

Beras SJ ukuran 5 kg naik dari harga Rp 64 ribu menjadi Rp 82 ribu (selisih kenaikan Rp 18 ribu).

Dalam hal ini TPID Kabupaten Langkat sudah melakukan beberapa upaya dalam mengatasi gejolak harga komoditas, di antaranya:

  1. Sidak Pasar Tradisional dan Kilang Padi

Sidak ke pasar tradisional dan beberapa kilang padi di Langkat dilakukan, hasilnya mendapatkan respon dari para pengusaha pengepul gabah.

Baca Juga  Senam Bersama Peringati Haornas 2023 di Langkat

Mereka mengeluhkan susahnya untuk mendapatkan gabah dari petani karena gabah padi sebagian sudah diserap oleh Bulog dengan harga yang relatif stabil sebesar Rp 6.500 per kg.

  1. Melakukan Berbagai Program

Berbagai program mengintervensi kenaikan harga beras di masyarakat, yaitu bekerja sama dengan Bulog menyalurkan bantuan beras Badan Pangan Nasional (BPN) kepada masyarakat kurang mampu di seluruh Kabupaten Langkat.

Per orang menerima bantuan beras 20 kg untuk alokasi di bulan Juni dan Juli 2025. Total beras yang sudah disalurkan Bulog sebanyak 74.780 orang penerima bantuan yang tersebar di 23 kecamatan di Langkat.

  1. Gerakan Pasar Murah

Pelaksanaan gerakan pasar murah bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.(*)
Editor: Riyan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us