AXIALNEWS.id | Masyarakat Langkat semakin terbebani memenuhi kebutuhan pangan dan gizi harian akibat lonjakan signifikan sejumlah harga sembako.
Kebutuhan pokok seperti beras, ikan laut dan daging ayam potong (boiler) melonjak drastis, memaksa kalangan masyarakat kurang mampu menjerit hingga mengancam peningkatan angka stunting.
Kenaikan harga ini seolah tanpa kompromi dan tak mau tahu dengan keadaan ekonomi kalang bawah. Pengeluaran lebih tinggi dari penghasilan, mereka ekonomi lemah semakin menderita.
Harga beras di pasaran, seolah terus memupuk penderitaan rakyat jelang perayaan hari kemerdekaan ke-80 bangsa Indonesia.
BERITA TERKAIT:
Lonjakan Harga Sembako Ancam Peningkatan Angka Stunting di Langkat
Sekdakab Langkat Amril yang juga selaku Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Langkat memaparkan akar penyebab dan solusi dari kenaikan harga sejumlah sembako, Jumat (8/8/2025).
Begini menurut TPID mengenai penyebab kenaikan harga sembako di Pasar Stabat dan solusi yang dilakukan.
Daging ayam alami kenaikan dari harga Rp 28 ribu per kg menjadi Rp 36 ribu per kg (selisih kenaikan Rp 8 ribu).
Menurut TPID: Diakibatkan terjadinya penurunan produksi ayam, lantaran kecendrungan peternak menjual ke perusahaan poktan.
Solusi TPID: –
Kenaikan harga ikan dencis dari Rp 30 ribu – Rp 35 ribu per kg, kini harganya naik hingga 60 persen lebih, mencapai Rp 50 ribu per kg.
Untuk ikan nila harganya juga alami kenaikan, biasanya Rp 35 per kg naik menjadi Rp 45 ribu per kg.
Menurut TPID: Hal ini disebabkan karena menurunnya hasil tangkapan nelayan beberapa minggu terakhir. Sehingga pedagang mengambil ikan dari daerah lain di luar daerah biasanya. Hal ini menyebabkan operasional meningkat dan harga ikan juga sedikit mengalami kenaikan.
Solusi TPID: –
Beras merek shincan ukuran 5 kg naik dari harga Rp 68 ribu menjadi Rp 84 ribu (selisih kenaikan Rp 16 ribu).
Beras SJ ukuran 5 kg naik dari harga Rp 64 ribu menjadi Rp 82 ribu (selisih kenaikan Rp 18 ribu).
Dalam hal ini TPID Kabupaten Langkat sudah melakukan beberapa upaya dalam mengatasi gejolak harga komoditas, di antaranya:
Sidak ke pasar tradisional dan beberapa kilang padi di Langkat dilakukan, hasilnya mendapatkan respon dari para pengusaha pengepul gabah.
Mereka mengeluhkan susahnya untuk mendapatkan gabah dari petani karena gabah padi sebagian sudah diserap oleh Bulog dengan harga yang relatif stabil sebesar Rp 6.500 per kg.
Berbagai program mengintervensi kenaikan harga beras di masyarakat, yaitu bekerja sama dengan Bulog menyalurkan bantuan beras Badan Pangan Nasional (BPN) kepada masyarakat kurang mampu di seluruh Kabupaten Langkat.
Per orang menerima bantuan beras 20 kg untuk alokasi di bulan Juni dan Juli 2025. Total beras yang sudah disalurkan Bulog sebanyak 74.780 orang penerima bantuan yang tersebar di 23 kecamatan di Langkat.
Pelaksanaan gerakan pasar murah bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara.(*)
Editor: Riyan