AXIALNEWS.id – [dibaca: exsil nius] – Patut dicontoh, Inovasi Desa Banyumas Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dalam perencanaan membangun Desa Layak Anak.

Desa Layak Anak ini direncanakan bukan saja menjadi taman bermain, peningkatan UMKM warga desa turut dicanangkan, termasuk menjadi Ikon Desa.

Namun keunikannya bukan saja pada program Desa Layak Anak dan peningkatan UMKM Desanya saja.

Gotong royong, unsur keunikan yang ada di dalamnya. Program ini merupakan canangan dari Joko Saputra selaku Kepala Desa (Kades) Banyumas yang disambut antusias oleh semua elemen masyarakatnya.

Keseriusan itu pun diwujudkan dengan gotong royong pada pelaksanaan pengerjaannya oleh semua lapisan masyarakat Desa Banyumas.

Tidak tanggung mulai dari perangkat desa, masyarakat umum pria dan wanita, PKK Desa, Ibu Pengajian Al Hidayah, Babinkamtibmas, Babinsa, BPD, LPMD, Karang Taruna, unsur pemuda, serta tokoh masyarakat dan toko agama semua bahu membahu membangun Desa Layak Anak.

Pegang cangkul, sekop, parang babat, mesin pemotong rumput, alat meracun dan lainnya. Bersama dilakukan tampa memandang usia, kasta jabatan serta status ekonomi dan sosial.

Semuanya sama rata duduk sejajar, mereka bersama menyingsingkan lengan baju, menghela nafas dan menyapu keringat.

Terlihat Kadesnya sendiri pun turut sibuk ikut bergotong royong, meracun rumput dan lainnya. Sementara warga ada yang menyapu, membakar sampah, mencangkul, mengaduk semen, memasang batu bata, memindahkan tumpukan besi dan mengerjakan lainnya.

“Semuanya sukarela, tidak ada yang digaji. Bahkan biaya pembangunan Desa Layak Anak ini pun menggunakan dana swadaya masyarakat. Setelah bekerja kami istirahat, makan minum sambil bercengkrama ditempat yang sama,” sebut Kades Joko, Sabtu (18/3/2023).

Pengerjaannya sudah dua kali, kata mantan Kadus V Obyek itu, pada 26 Februari dan 12 Maret 2023, dilaksanakan dua minggu sekali dan disetiap hari minggu.

Lokasi Desa Layak Anak ini, letaknya strategis. Selain dipinggir jalan besar, dan didekat stasiun kereta api (KAI) Kwala Bingai, yang pastinya dilewati para penumpang turun dan naik melalui stasiun itu. Juga berada di pertengahan wilayah Desa Banyumas.

“Lokasi strategis ini lah yang memunculkan ide kami untuk menjadikannya Ikon Desa yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Joko.

Disinggung tidak menggunakan dana desa, Joko mengatakan tidak bisa. Sebab lokasi tanahnya milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pihaknya hanya sebatas pinjam pakai saja. “Kami sudah berkoordinasi dengan KAI soal hal itu, alhamdulillah disetujui, makanya kita langsung membangunnya,” ungkapnya.

Bagaimanakah model pembangunan Desa Layak Anak ini, dan upaya dalam meningkatkan UMKM warganya? (Bersambung).
Reporter: R Hamdani
Editor: Fakhrur Rozi