AXIALNEWS.id – [dibaca: exsil nius] – Salat sunah terawih salah satu ibadah yang hanya ada di bulan suci ramadan selain puasa wajib satu bulan penuh.
Ibadah yang dilakukan setelah salat Isya ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Dikutip dari nu.or.id bahwa Syekh Taqiyuddin al-Hishni dalam karyanya Kifayatul Akhyar menegaskan bahwa kesunnahan salat tarawih merupakan kesepakatan seluruh ulama dari berbagai mazhab, tidak dianggap pendapat-pendapat yang menyelisihi konsensus tersebut.
Al-Hishni mengatakan:
ููุฃู ุง ุตูููุงุฉ ุงูุชููุฑูุงูููุญ ููููุง ุดูู ููู ุณููุชูุง ูุงูุนูุฏ ุงููุฅูุฌูู ูุงุน ุนูู ุฐูููู ููุงููู ุบูุฑ ููุงุญูุฏ ููููุง ุนูุจูุฑูุฉ ุจุดูุงุฐ ุงููุฃูููููุงู
โAdapun salat tarawih, tidak diragukan lagi di dalam kesunnahannya. Kesepakatan ulama telah menjadi kukuh di dalam kesunnahannya, yang demikian dikatakan tidak hanya satu orang. Tidak dianggap pendapat-pendapat yang menyimpangโ (Syekh Taqiyuddin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, hal. 89).
Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan tarawih. Di antaranya hadits Nabi riwayat Imam al-Bukhari, Muslim dan lainnya:
ู ููู ููุงู ู ุฑูู ูุถูุงูู ุฅูู ูุงููุง ููุงุญูุชูุณูุงุจูุง ุบูููุฑู ูููู ู ูุง ุชูููุฏููู ู ู ููู ุฐูููุจููู
“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan
Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampauโ (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Ulama sepakat bahwa redaksi โqรขma ramadlรขnaโ di dalam hadits tersebut diarahkan pada salat tarawih.
Syekh Khatib al-Syarbini menegaskan:
ููููุฏู ุงุชูููููููุง ุนูููู ุณูููููููุชูููุง ููุนูููู ุฃููููููุง ุงููู ูุฑูุงุฏู ู ููู ูููููููู – ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู – ยซู ููู ููุงู ู ุฑูู ูุถูุงูู ุฅูู ูุงููุง ููุงุญูุชูุณูุงุจูุง ุบูููุฑู ูููู ู ูุง ุชูููุฏููู ู ู ููู ุฐูููุจููู ููู ูุง ุชูุฃูุฎููุฑูยป ุฑูููุงูู ุงููุจูุฎูุงุฑูููู ูููููููููู: ุฅูู ูุงููุง: ุฃููู ุชูุตูุฏููููุง ุจูุฃูููููู ุญูููู ู ูุนูุชูููุฏูุง ููุถููููุชูููุ ููุงุญูุชูุณูุงุจูุง: ุฃููู ุฅุฎูููุงุตูุงุ
โUlama sepakat atas kesunnahan tarawih dan sesungguhnya tarawih adalah salat yang dikehendaki dalam hadits Nabi, Barang siapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau. Hadits diriwayatkan al-Bukhari.
Adapun sabda Nabi โimananโ, maksudnya adalah membenarkan bahwa yang demikian itu haq seraya meyakini keutamaannya. Sabda Nabi โwahtisabanโ, maksudnya ikhlasโ (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 459).
Ulama berbeda pendapat mengenai dosa yang diampuni dalam hadits tersebut, sebagaimana mereka juga ikhtilaf di dalam hadits-hadits sejenis. Menurut al-Imam al-Haramain, yang dihapus hanya dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar hanya bisa diampuni dengan cara bertaubat.
Sementara menurut Imam Ibnu al-Mundzir, redaksi โmรขโ (dosa) dalam hadits tersebut termasuk kategori lafadh โรขm (kata umum) yang berarti mencakup segala dosa, baik kecil atau besar.
Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli mengatakan:
ููุงูู ุงููุฅูู ูุงู ู: )ููุงููู ููููููุฑู ุงูุตููุบูุงุฆูุฑู ุฏูููู ุงููููุจูุงุฆูุฑู( . ููุงูู ุตูุงุญูุจู ุงูุฐููุฎูุงุฆูุฑู: ููููุฐูุง ู ููููู ุชูุญููููู ู ููุญูุชูุงุฌู ุฅููู ุฏูููููู ููุงููุญูุฏููุซู ุนูุงู ูู ููููุถููู ุงูููููู ููุงุณูุนู ููุง ููุญูุฌูุฑู. ููุงูู ุงุจููู ุงููู ูููุฐูุฑู ููู ูููููููู – ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู – ยซู ููู ููุงู ู ุฑูู ูุถูุงูู ุฅูู ูุงููุง ููุงุญูุชูุณูุงุจูุง ุบูููุฑู ูููู ู ูุง ุชูููุฏููู ู ู ููู ุฐูููุจูููยป : ููุฐูุง ูููููู ุนูุงู ูู ููุฑูุฌูู ุฃูููููู ููุบูููุฑู ูููู ุฌูู ููุนู ุฐููููุจููู ุตูุบููุฑูููุง ููููุจููุฑูููุง
โAl-Imam al-Haramain berkata, yang dilebur adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Berkata pengarang kitab al-Dzakhair, ini adalah vonis sepihak dari al-Imam al-Haramain yang butuh dalil, padahal haditsnya umum dan anugerah Allah luas tak terbendung. Ibnu al-Mundzir berkata di dalam sabda Nabi, Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau, ini adalah perkataan yang umum, diharapkan terampuninya seluruh dosa-dosa bagi pengamalnya, dosa kecil dan besarโ (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 206).

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah bahwa Nabi pada suatu malam berada di dalam masjid, beliau salat dan diikuti oleh para sahabat. Di hari berikutnya Nabi salat seperti di hari pertama dan jamaah yang mengikutinya bertambah banyak. Kemudian di hari ke tiga atau keempat sahabat berkumpul di masjid untuk menanti kedatangan Nabi untuk salat jamaah tarawih bersama-sama, namun Nabi tidak kunjung hadir hingga subuh.
Beliau menjelaskan perihal ketidakhadirannya di masjid semalam, beliau bersabda โAku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidaklah mencegahku untuk keluar salat bersama kalian kecuali aku khawatir salat ini difardlukan atas kalian. Perawi hadits menjelaskan bahwa yang demikian itu terjadi di bulan Ramadanโ (HR al-Bukhari dan Muslim).
Nabi sengaja tidak melanjutkan jamaah tarawih di masjid di hari-hari berikutnya karena khawatir ada anggapan bahwa salat tarawih hukumnya wajib. Sunnah ini kemudian berlanjut sampai masanya khalifah Abu Bakr al-Shidiq. Hingga pada masa khalifah Umar bin al-Khatab, atas ide khalifah Umar dan disepakati seluruh sahabat, dilakukan jamaah tarawih secara rutin di masjid hingga akhir Ramadan.
Ulama menjelaskan bahwa telah terjadi perbedaan konteks di zaman Nabi & Abu Bakr dengan masanya Umar sehingga terjadi praktik yang berbeda dalam pelaksanaan tarawih. Bila di masa Nabi masih sangat rentan diyakini wajib, maka alasan tersebut hilang saat masa kepemimpinan Sayyidina Umar, sehingga dilakukan jamaah tarawih secara rutin di masjid.
Syekh Taqiyuddin al-Hishni menegaskan:
ูููุนู ุนู ุฑ ุฐูููู ูุฃู ูู ุงูุงูุชุฑุงุถ
โDan Sayyidina Umar melakukan hal demikian (mengumpulkan manusia untuk salat jamaah tarawih) karena terjamin dari anggapan kewajiban tarawihโ (Syekh Taqiyuddin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, hal. 89).
Imam al-Baihaqi dan lainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa umat Islam shalat tarawih di bulan Ramadan pada masa pemerintahan Sayyidina Umar bin al-Khattab sebanyak 20 rakaat. Di dalam riwayat lain dari Imam Malik di kitab al-Mawatthaโ, jumlah rakaat shalat yang dilakukan di masa Umar adalah 23 rakaat.
Al-Imam al-Baihaqi kemudian mengompromikan dua dalil tersebut bahwa riwayat yang menyatakan 20 rakaat konteksnya adalah tanpa menghitung 3 rakaat sahalat witir, sedangakan riwayat yang menyebut 23 rakaat setelah menghitung 3 rakaat witir.
Demikian penjelasan mengenai keutamaan shalat tarawih. Semoga kita diberi kekuatan untuk istiqamah menjalankannya dengan ikhlas. Wallahu a’lam.
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qurโan, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.