Langkat Menuju Kota Budaya, Ada Harga Mahal Harus Dibayar

Bupati Langkat Syah Afandin bersama Tokoh Melayu Langkat berziarah ke makam Raja Langkat Tuanku Wan Sopan pada rangkaian Festival Budaya Rakyat Ampera dan Donasi Korban Banjir, Senin (15/12/25) di Dusun Ampera, Kecamatan Wampu, Langkat. (axialnews)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Bencana banjir November di Kabupaten Langkat merupakan peringatan keras dari Tuhan melalui alamnya, penafsiran sejumlah tokoh.

Ditengah peristiwa ini, digelar Festival Budaya Rakyat Ampera sekaligus Donasi Korban Banjir di Dusun Ampera, Kecamatan Wampu, Langkat, Senin (15/12/2025). Bertema ‘Pagelaran Seni Malam Berinai’ digagas oleh Yayasan Ujung Tanjung Langkat didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumut.

Dalam acara ini terselip rencana besar untuk membangun Kampung Budaya dan Kota Budaya di Langkat, tujuannya agar Langkat kembali BERTUAH.

Namun ada harga mahal harus dibayar untuk Langkat mampu mewujudkan rencana tersebut, yakni PERSATUAN di antara zuriat Kesultanan Langkat secara khusus, dan persatuan seluruh Puak Melayu dan masyarakat Langkat.

Baca Juga  Faisal Hasrimy Terima Gelar 'Datok Praja Indra Negeri', Berikut Artinya

Banjir bukan saja berdampak terhadap 434.776 jiwa di 16 kecamatan, namun menenggelamkan Masjid Azizi dan pusara sultan sultan negeri langkat, kali pertama ini pula air masuk menggenang lantai masjid setinggi lutut orang dewasa sejak berdiri kokoh selama 123 tahun.

Bupati Langkat Syah Afandin menafsirkan bencana banjir merupakan peringatan, bukan musibah. Ia pun menyayangkan terjadinya perpecahan di internal elit zuriat Kesultanan Langkat dengan munculnya dualisme kepemimpinan.

Menurutnya, hal itu akan menjadi kendala upaya-upaya menuju Kota Budaya. Karena sulit meyakinkan investor untuk masuk jika ada konflik yang tidak berkesudahan.

“Jadilah kita pendingin, jangan jadi kompor. Kalau perlu mereka ini kita panggil untuk buat kesepakatan. Kalau tak mau juga, ada tata cara yang sudah diatur untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu adanya Datuk Empat Suku untuk mendudukkan, siapa sebenarnya yang berhak atas Sultan Langkat. Selanjutnya saya akan berikan otorisasi, supaya ke depan ada kelembagaan yang jelas,” tegasnya.

Baca Juga  Pemko Binjai Dukung Siaga Pengawasan Jelang Pemilu 2024

Dusun Ampera direncanakan sebagai Kampung Budaya, namun Bupati Langkat punya cita-cita lebih besar, menjadikan Tanjung Pura sebagai Kota Adat Melayu (Kota Budaya), bukan hanya sebatas Dusun Ampera. Untuk rencana itu, Bupati telah menyiapkan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

“Semoga pada masa kepemimpinan saya ini, Allah ridho untuk merealisasikannya,” ujarnya.

Baca Juga  Posko Pangan di Kota Medan Jual Sembako Murah

Alasan Tanjung Pura jadi Kota Budaya karena lokasi berdirinya Kesultanan Langkat dan memiliki sejarah panjang dalam pembanguan Langkat.

Selain itu lokasi makam para Sultan Langkat dan Pahlawan Nasional T Amir Hamzah, serta tempat keberadaan Masjid Azizi sebagai situs budaya.

Alasan Kampung Budaya di Dusun Ampera (Stabat Lama) : Karena erat kaitannya dengan jejak sejarah Kesultanan Langkat. Nama “Ampera” sendiri berasal dari kata “Asal Mula Perkampungan Rakyat” kampung ini yang merupakan cikal dari Kota Stabat tempat berakhirnya pertikaian antara Wan Jabbar dan Tan Husein dengan berjabatan tangan berpadu untuk negeri langkat.(*)
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us