AXIALNEWS.id | Sejenak kemegahannya redup setelah berdiri kokoh selama 123 tahun, air hampir setinggi dengkul orang dewasa masuk tergenang menutupi tempat sujud pada puncak bencana banjir Langkat 27-28 November 2025.
Banjir masuk ke dalam Masjid Azizi Tanjung Pura baru pertama kali sejak diresmikan pada 13 Juni 1902 di masa kepemimpinan Kesultanan Langkat, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah.
Saat bencana banjir ini, halaman Masjid Azizi terlihat seperti hamparan laut dengan ketinggian air sedada orang dewasa, berwarna kuning pekat.
Sementara pada banjir besar di tahun 2001 dan tahun 2006, air hanya mampu menggenang di halaman pelantaran masjid.
Sejarahnya, pembangunan Masjid Azizi dimulai pada tahun 1899 masa kepemimpinan Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) bin Raja Ahmad (1840-1893) dengan saran dari Tuan Guru Babussalam Pertama, Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi An-Naqsyabandi.
Azizi bukan sekedar masjid tempat ibadah, kehadirannya merupakan simbol kejayaan Langkat, simbol kemakmuran, kesejahteraan, persatuan dan perdamaian, hubungan diplomatik internasional, dan kemajuan peradaban negeri bertuah.
Bayangkan, Masjid Azizi pada masanya merupakan satu-satunya masjid di Indonesia yang pondasinya memiliki teknologi hidrolik dari kecanggihan Jerman.
Design pondasi Azizi saat itu dipercayakan kepada arsitek asal Jerman bernama GD Langereis dengan dirancang untuk menopang struktur bangunan yang besar dan berat, dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan lingkungan sekitar.
Masjid Azizi memiliki arsitektur unik dengan perpaduan gaya mughal dan lokal, yakni arsitektur Melayu-Islam yang indah, dengan perpaduan gaya Timur Tengah, India, dan Melayu.
Bangunannya memiliki kubah besar, menara tinggi, dan dinding dihiasi kaligrafi Al-Qur’an. Kemegahan masjid mampu menampung sekitar 2.000 jemaah. Saat ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Langkat dan salah satu destinasi wisata religi populer.

Sejumlah tokoh Melayu menyebutkan, Senin (15/12/25) bahwa masuknya banjir ke dalam Masjid Azizi merupakan peringatan keras dari Allah SWT melalui alamnya.
Peringatan agar kembali menyatukan persepsi untuk bersama memajukan Langkat, terkhusus bagi para Juriat Kesultanan Langkat. Secara umum untuk seluruh masyarakat Melayu dan masyarakat Langkat keseluruhan.
“Mari bersatu menghidupkan budaya, jangan ada lagi perselisihan, mari kesampingkan ego dan kepentingan pribadi demi memajukan masyarakat Langkat secara keseluruhan,” pesannya.
Peringatan termasuk untuk menjaga alam Langkat dari kerakusan dan tindakan illegal logging ahli, fungsi kawasan hutan lindung, dan hutan mangrove demi keuntungan pribadi atau segelintir kelompok.
Laporan dampak banjir sementara per 15 Desember 2025: sebabkan 13 orang meninggal dunia, 108.694 kepala keluarga (KK) atau 434.776 jiwa terdampak, dengan jumlah pengungsi sekitar 87.950 jiwa dari 141 desa dan 29 kelurahan di 16 kecamatan dengan ketinggian air berkisar antara 50 cm hingga 200 cm.(*)
Editorial Redaksi