AXIALNEWS.id | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, didampingi Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, melakukan kunjungan kerja ke Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (1/2/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesehatan perempuan dan anak melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis komunitas dan kearifan lokal.
“Terkait penguatan perempuan dan anak dalam program MBG, fokus utama kami adalah meningkatkan pemahaman perempuan sebagai manajer dalam keluarga, khususnya dalam pemenuhan gizi berbasis kearifan lokal. Menu MBG harus berangkat dari potensi pangan lokal masing-masing daerah yang berbeda,” ujar Menteri PPPA.
Tantangan Kesehatan dan Ketahanan Pangan
Menteri PPPA, menambahkan bahwa perempuan dan anak masih menghadapi tantangan besar, seperti tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) akibat keterbatasan akses layanan kesehatan.
Menurutnya, perhatian terhadap isu ini bukan sekadar prioritas nasional, melainkan komitmen global. Guna memperkuat ketahanan pangan keluarga, pihaknya mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan harian seperti cabai dan sayuran.
Langkah ini diperkuat dengan pemberdayaan komunitas desa agar mampu menjadi pemasok bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Rencana besar ke depan adalah memperbanyak SPPG di desa, sehingga kebutuhan pangan tidak perlu dibeli dari luar, melainkan dipenuhi secara mandiri oleh desa tersebut,” tuturnya.
Ekosistem Badan Gizi Nasional
Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional (BGN), Florencio Mario Vieira, menjelaskan bahwa BGN tengah membangun ekosistem dari hulu hingga hilir.
Saat ini, tercatat hampir 21.000 SPPG aglomerasi dan 8.670 SPPG terpencil yang sedang dalam proses pengerjaan.
“Tantangan terbesar ke depan adalah rantai pasok. Kualitas dan kesegaran pangan sangat krusial agar tidak menimbulkan risiko kesehatan,” jelas Mario.
Ia menambahkan, program MBG menjadi sarana strategis pemberdayaan perempuan. Sekitar 90 persen tenaga kerja di SPPG adalah perempuan, yang berarti melibatkan lebih dari satu juta pekerja perempuan.
Meski berdampak positif, Mario mengakui adanya tantangan sosial seperti resistensi di lingkungan keluarga.
Kesiapan Maluku Utara sebagai Proyek Percontohan
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang turut hadir dalam kunjungan tersebut, menyatakan kesiapan daerahnya menjadi pilot project pengembangan ekosistem terintegrasi.
“Saya membayangkan adanya SMK terintegrasi yang menggabungkan pendidikan, dapur MBG, ekosistem pemberdayaan perempuan, pemeriksaan kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi,” ujar Sherly.
Ia menegaskan Maluku Utara memiliki potensi lahan dan anggaran yang memadai, namun masih membutuhkan pendampingan teknis.
“Yang kami butuhkan adalah pendampingan dan penguatan SDM. Dengan kolaborasi yang tepat, gagasan ini dapat direalisasikan,” pungkasnya.
Editor: M. Nuh