AXIALNEWS.id | Tertipu teman sendiri, itu yang dialami Sri Hartati Ningsih seorang guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumut.
Mobil Toyota Avanza BK 1185 PF yang baru dibeli Sri Hartati Ningsih dengan harga Rp 85 juta ini dilarikan oleh temannya sendiri.
Otak pelaku diduga Pur, teman dekat korban, seorang Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Stabat, yang juga merupakan istri seorang oknum Polri bertugas di Polres Langkat.
“Ibu Bhayangkari berinisial Pur yang juga menjabat sebagai Kepala SD Negeri di Kecamatan Stabat tersebut, adalah orang yang paling bertanggung jawab atas raibnya mobilku,” sebut Sri Hartati Ningsih di Stabat, Senin (30/10/23).
Awalnya korban berniat menitipkan mobilnya, naas malah tertipu oleh teman yang dianggap baik. “Kalau bukan karena Pur yang datang ke rumah, tak mungkin mobilnya diberikan,” ungkap korban.
Awalnya korban, Sri Hartati Ningsih membeli mobil Avanza itu dari Hartono warga Kecamatan Secanggang, Langkat seharga Rp 85 juta pada Januari 2021 lalu.
Saat membeli mobil tersebut, Sri meminta untuk membalik namakan kepemilikan mobil kepada Hartono menjadi namanya.
Sebulan mengurus admistrasi Bea Balik Nama – Kendaraan Bermotor (BBN-KB), akhirnya kepemilikan telah berganti nama menjadi nama Sri Hartati.
Meski telah selesai, korban belum sempat mengambil BPKB mobil yang ada ditangan Hartono, sebab kesibukan. Sampailah BPKP mobil ditangan Hartono sembilan bulan lebih.
Ternyata secara diam diam, Hartono meleasingkan BPKB mobil Sri. Hal tersebut diketahui Sri saat dirinya dihubungi pihak leasing.
“Waktu itu, leasing mengatakan kepada saya, saya telah membuat pinjaman uang dengan jaminan BPKB mobil. Dikatakan oleh pihak leasing, saya telah menungak pembayaran selama 6 bulan,” ungkap korban.
Untuk itu, pihak leasing berencana menarik mobil Sri. Namun, karena merasa tak pernah membuat pinjaman, Sri mengatakan tidak mau membayarnya.
Ditengah kepanakin itu, Sri kemudian menghubungi rekannya Pur dan menceritakan masalahnya guna mencari solusi.
“Dengan enteng, Pur mengatakan akan membantu saya mengamankan mobil dirumahnya,” kata korban.
“Udah aman itu, letak aja dirumahku mana berani mereka (leasing) mengambilnya,” ujar Sri menirukan ucapan Pur waktu itu.
Persis ditangal 30 Desember 2022, sekira pukul 20.00 WIB, rumah Sri didatangi Pur, beralamat di Dusun II Cinta Damai, Desa Pantai Gemi, Kecamatan Stabat, Langkat.
Pur tidak datang sendiri, melainkan bersama dua orang rekannya yakni Anwar (46) warga Jl Gunung Jaya Wijaya, Gang Gotong Royong, Lingkungan X, Kelurahan Binjai Estate, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai. Serta Fil, istri oknum Polri bertugas di Polda Sumut.
Saat itu Pur mengatakan kepada Sri terpaksa mengajak temannya Anwar dan Fil karena tidak bisa menyetir.
“Katanya Pur ngak bisa menyetir, makanya dia mengajak kawanya Anwar sama Fil,” ungkap Sri menegaskan.
Selanjutnya, Sri menyerahkan mobil tersebut kepada Pur. “Waktu itu, orang leasing juga datang ke rumah,” timpal Sri lagi.
Saat Sri menyerahkan mobil kepada Pur, orang leasing yang melihat diam saja meski kedatangannya berniat mengambil mobil.
“Orang leasing datang satu orang, waktu saya serahkan mobil sama Pur, dia cuma tanya mau dibawa kemana mobilnya. Dijawab Pur mau disewa,” ungkapnya.
“Udah begitu aja. Kemudian mobil pun dibawa pergi Pur dan Anwar. Tak lama kemudian, orang leasing juga pergi,” sambungnya.
Selang beberapa minggu kemudian, Sri menghubungi Pur menanyakan mobilnya tersebut. Dengan santai Pur mengatakan kalau mobil ditangan Anwar dan tidak ada masalah.
Selanjutnya Sri meminta Pur mengembalikan mobilnya, karena ia berniat menjemput anaknya yang akan kembali pada 2 Agustus 2022.
Tapi waktu itu Pur mengatakan kalau mobil direntalkan oleh Anwar. Pur pun menjanjikan uang rental akan diberikan kepada Sri.
Lalu Sri coba menghubungi Anwar menanyakan mobilnya. Jawaban Anwar sama dengan Pur. Mobil sedang dirental orang lain.
Kemudian Anwar mengatakan bisa membantu mencari mobil rental buat Sri asal memberikan uang jaminan sebesar Rp 5 juta.
Tak mengira bakalan ditipu, dengan polosnya Sri mengirimkan uang yang diminta Anwar. Sialnya, sejak uang ditransfer mobil yang dijanjikan Anwar tak kunjung datang.
Merasa telah dipermainkan oleh Anwar, Sri kemudian menghubungi Pur. Berulang kali Pur dimintai tolong untuk mengembalikan mobilnya yang dibawa Anwar, tapi Pur terkesan melindungi Anwar.
“Bolak balik saya ke rumah Pur, sampek bosan, bahkan sangkin geramnya, suami Pur yang tugas di Polres Langkat menyarankan saya buat laporan polisi saja, makanya saya membuat laporan ke Polsek Stabat,” jelas Sri.
“Begitu juga dengan teman Pur yang bernama Fil itu, saya minta tolong juga tuk mencarikan Anwar, jawabannya selalu bilang sabar buk, nanti suami ku suruh mencarikan, diakan polisi gampang itu,” tambahnya.
Tapi setelah berbulan bulan lamanya, keberadaan Anwar tidak diketahui. “Dan yang sangat saya sesalkan, Pur yang dititipi amanah mobil saya, terkesan cuek aja, bahkan yang bersangkutan tak pernah memperlihatkan empatinya atas musibah ini,” ungkap Sri.
“Makanya setelah dipikir pikir saya pun menempuh jalur hukum dengan melaporkan Pur kepihak yang berwajib. Sebab yang saya kenal hanya Pur waktu itu, dan kepadanya saya menitipkan mobil tersebut,” tandasnya.
Tapi belakangan, heran Sri, hanya Anwar yang ditangkap polisi bukan Pur. “Saya maunya yang terlibat ditangkap semualah jangan Anwar aja, kayaknya mereka sindikat,” ujar Sri curiga.
Terpisah, Kapolres Langkat AKBP Faisal Rahmad Husein Simatupang kepada wartawan mengatakan sedang mempelajari kasus pengelapan mobil ini.
“Kita kejar dulu pelakunya, nanti baru ketahuan terlibat atau tidak si Pur itu, saat ini polisi telah mengamankan Anwar dari kediamannya dan masih mencari barang bukti mobil milik korban yang digadaikan.(*)
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Eddy S