AXIALNEWS.id | Di era digital saat ini, hampir setiap aspek kehidupan bisnis berubah dengan cepat, termasuk cara perusahaan mengelola keuangan mereka.
Jika dulu laporan keuangan disusun secara manual dan proses transaksi memerlukan waktu berhari-hari, kini semuanya bisa dilakukan secara instan berkat kehadiran teknologi keuangan atau financial technology (fintech).
Fintech tidak hanya sekadar tren modern, tetapi telah menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan yang ingin bertahan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Melalui inovasi ini, efisiensi bukan lagi cita-cita abstrak, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan langsung dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Masalah klasik dalam dunia bisnis selalu sama: bagaimana menjalankan operasional secara efisien tanpa mengorbankan kualitas. Banyak perusahaan di Indonesia masih menghadapi kendala seperti arus kas yang tidak lancar, pencatatan manual yang rawan kesalahan, serta proses pembayaran yang lambat dan tidak transparan.
Akibatnya, waktu dan biaya terbuang sia-sia, sementara kompetisi semakin ketat. Dalam konteks inilah fintech hadir sebagai solusi yang membawa perubahan besar. Melalui inovasi seperti sistem pembayaran digital, pengelolaan kas otomatis, hingga aplikasi akuntansi daring, fintech membantu perusahaan menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Perusahaan yang dulunya membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyusun laporan keuangan kini dapat melakukannya hanya dalam hitungan menit. Menariknya, manfaat ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil dan menengah yang kini dapat mengakses teknologi keuangan dengan biaya terjangkau.
Fintech bukan hanya sekadar alat untuk pembayaran atau transfer uang. Lebih dari itu, teknologi ini mencakup seluruh aspek manajemen keuangan perusahaan. Banyak platform kini menyediakan fitur analisis otomatis, pengingat tagihan, hingga pemantauan piutang secara digital.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah perusahaan fintech di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Peningkatan ini menandakan bahwa dunia bisnis semakin percaya pada kemampuan teknologi untuk memperkuat efisiensi dan akuntabilitas.
Beberapa contoh yang nyata di antaranya adalah aplikasi seperti Jurnal id dan Mekari yang membantu banyak perusahaan dalam mengelola laporan keuangan secara digital, serta layanan pembayaran seperti Xendit yang mempermudah proses transaksi daring bagi bisnis skala kecil maupun besar.
Dari sisi efisiensi, fintech berhasil memangkas biaya administratif dan meminimalkan kesalahan manusia (human error). Sistem otomatis membuat setiap transaksi tercatat dengan akurat dan real-time, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
Transparansi pun meningkat karena seluruh transaksi bisa dilacak kapan saja dan di mana saja. Di sektor UMKM, fintech bahkan berperan sebagai penyelamat. Melalui layanan pembiayaan digital seperti pinjaman antar pengguna, pelaku usaha kecil kini bisa mengakses modal secara cepat tanpa harus melalui proses perbankan yang rumit.
Hal ini membantu mempercepat perputaran modal dan memperluas peluang bisnis, sehingga efisiensi dan produktivitas meningkat secara signifikan.
Meski begitu, penggunaan fintech juga memiliki risiko. Ketergantungan terhadap teknologi membuat perusahaan perlu lebih waspada terhadap isu keamanan data dan potensi kebocoran informasi keuangan.
Karena itu, penting bagi setiap perusahaan untuk berhati-hati dalam memilih penyedia layanan fintech yang terpercaya dan memiliki izin resmi dari OJK. Selain itu, literasi digital karyawan juga harus diperkuat agar pemanfaatan teknologi ini benar-benar optimal. Teknologi canggih tidak akan banyak membantu jika sumber daya manusianya tidak siap beradaptasi dengan sistem baru.
Untuk memaksimalkan manfaat fintech, perusahaan perlu melangkah secara strategis. Langkah pertama adalah memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala bisnis. Tidak semua platform fintech cocok untuk semua jenis perusahaan, sehingga seleksi menjadi hal penting.
Kedua, perusahaan perlu mengedukasi karyawan agar memahami cara kerja sistem digital yang digunakan, sehingga proses operasional bisa berjalan efisien. Ketiga, perusahaan harus memastikan perlindungan data menjadi prioritas utama dengan menerapkan sistem keamanan berlapis serta menjalin kerja sama dengan penyedia teknologi yang terpercaya.
Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan juga perlu diperkuat agar ekosistem fintech di Indonesia berkembang secara sehat. Pemerintah berperan dalam menciptakan regulasi yang melindungi pengguna dan mendorong inovasi, sementara perusahaan harus aktif berinovasi agar teknologi yang digunakan benar-benar menciptakan efisiensi nyata, bukan hanya menjadi tren sesaat.
Teknologi keuangan telah mengubah cara perusahaan mengelola bisnis mereka. Dari proses pembayaran, pencatatan, hingga pengambilan keputusan, semua kini bisa dilakukan dengan lebih cepat, efisien, dan transparan. Fintech bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi tulang punggung baru dalam manajemen keuangan modern.
Dengan pemanfaatan yang bijak dan hati-hati, fintech bisa menjadi kunci bagi perusahaan Indonesia untuk melangkah lebih jauh — tidak hanya bertahan di tengah kompetisi, tetapi juga tumbuh menjadi pemain tangguh di era ekonomi digital.(*)
Penulis : Afrah Usamah Thalib, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia.