AXIALNEWS.id | Isu kudeta terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin santer terdengar.
Isu ini diduga datang dari kalangan pendukung Joko Widodo (Jokowi) yang merasa tidak puas dengan sejumlah langkah Prabowo, yang dinilai mulai “membelot” dari titah politik Jokowi.
Sejumlah keputusan Prabowo dianggap sebagai manuver berani, misalnya pembatalan pencaplokan empat pulau Aceh oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang disebut-sebut atas instruksi Jokowi melalui Mendagri Tito Karnavian, pemberian abolisi kepada Tom Lembong, amnesti kepada Hasto Kristiyanto, serta mulai dibidiknya para pendukung Jokowi dalam kasus hukum.
Meski di depan publik Prabowo masih terlihat mesra dengan Jokowi dan keluarganya—bahkan sering menunjukkan sikap hormat dengan memeluk cucu Jokowi, Jan Ethes—namun di balik layar, ada kemungkinan Prabowo ingin melepaskan diri dari bayang-bayang sang mantan presiden.
Selama Prabowo masih berlindung di balik kekuatan Jokowi dan oligarki taipan, mustahil ia bisa leluasa menjalankan kebijakan pro-rakyat.
Kekuasaan Prabowo hanya akan menjadi simbol, sementara kebijakan riil tetap dikendalikan oleh jaringan lama Jokowi dan oligarki ekonomi.
Bila kondisi ini terus berlangsung, maka:
Jika pada akhirnya Prabowo benar-benar dikudeta, maka posisinya akan tragis: dibuang Jokowi sekaligus dimusuhi rakyat.

Karena itu, pilihan kembali bersama rakyat adalah opsi terbaik bagi Prabowo, meski konsekuensinya berat. Ada lima langkah utama yang harus diambil:
Namun bila Prabowo memilih tetap menjadi pion Jokowi, maka bangsa ini hanya akan semakin terpuruk: rakyat makin sengsara, sementara pejabat korup terus berpesta pora di atas penderitaan rakyat.(*)
Oleh: Pemerhati Sosial dan Politik, Sholihin MS.
Sumber: radaraktual.com, terbit pada 20 Agustus 2025.