Termasuk dalam Gangguan Mental, ini Perbedaan dari Istilah Fomo dan Fobo yang Bikin Keliru

Ilustrasi gambar Seseorang mengalami Fomo (HSEducacion)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Istilah Fomo dan Fobo ini mungkin sudah tidak asing lagi didengar khususnya dikalangan anak muda yang sering mengikuti perkembangan di media sosial mereka. Kedua istilah ini sering membuat pendengarnya keliru dan salah mengartikan maksud dari dua kata tersebut.

Istilah Fomo adalah singkatan dari (Fearing Of Missing Out) dimana istilah ini menggambarkan situasi seseorang yang akan merasakan cemas disebabkan dari sesuatu hal yang menarik dan menyenangkan terjadi. Biasanya hal yang menarik dan menyenangkan ini terjadi karena unggahan dari media sosial. Secara sederhana, Fomo diartikan sebagai perasaan takut dari seseorang karena takut tertinggal dengan peristiwa, pengalaman dan informasi.

Rasa takut dan cemas yang dialami oleh seseorang yang mengalami Fomo ini berkaitan dengan emosi, motivasi dan perilaku dari penderitanya. Rasa takut dan cemas akan kehilangan momen dan tertinggal dari orang lain berkaitan dengan kebutuhan psikologis dimana hal ini disebabkan dari update kegiatan orang lain di media sosial.

Istilah Fomo termasuk dalam gangguan mental dan penyakit sosial yang tanpa sadar sudah dialami oleh banyak orang. Interaksi dengan media sosial secara 24 jam akan menyebabkan seseorang mengalami gangguan mental, itulah sebabnya Fomo termasuk kedalam penyakit gangguan mental. Contoh sederhana dari Fomo ini seperti, merasa takut tertinggal dari tren yang sedang viral, memaksakan diri untuk membeli model pakaian yang terbaru, serta mengharuskan diri untuk berkunjung ke tempat wisata yang sedang viral di media sosial.

Baca Juga  Khutbah Pendek Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani Miliki Hikmah Mendalam

Seseorang yang mengalami Fomo akan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu diluar batas kemampuan ekonomi dan akan menjadi masalah serius untuk kondisi finansial seseorang. Seseorang yang mengalami Fomo akan sangat berdampak negatif untuk dirinya, ilmuwan asal Inggris Dr. Andrew K. Przybyiski telah menemukan penyakit ini sejak tahun 2013.

Berdasarkan riset, dimana Fomo ini cenderung banyak dialami oleh anak-anak muda yang sering aktif di media sosial. Akan tetapi seiring dengan perkembangannya zaman, pengguna media sosial sudah aktif disemua kalangan, maka tidak menutup kemungkinan Fomo ini akan dialami oleh semua orang tanpa batasan usia.

Baca Juga  JANGAN SALAH, Ini 6 Waktu Tepat Memakai Body Lotion

Sedangkan, Istilah dari Fobo ini merupakan singkatan dari (Fear Of Better Options), dimana istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Patrick McGinnis, seorang pemodal ventura dan penulis pada tahun 2004.

Dilansir dalam artikel glints, Fobo adalah sebuah fenomena sosial di mana terjadi keragu-raguan saat mengambil sebuah keputusan. Meskipun, keputusan tersebut tampak sederhana, atau semua opsi dapat diterima.

Baca Juga  Perbedaan Kemampuan Hard Skill dan Soft Skill

Istilah Fobo pertama kali muncul dalam artikel The Harbus milik Harvard Business School. Ketakutan ini dapat muncul kapan saja. Mulai dari keputusan kecil seperti apa yang akan ditonton di TV, apa yang akan dimakan untuk makan malam, hingga keputusan yang lebih signifikan seperti apakah akan mengambil pekerjaan baru.

Apa pun masalahnya, orang yang mengalami ketakutan ini mungkin menemukan diri mereka kewalahan oleh kemungkinan yang mungkin terjadi. Umumnya, ketakutan ini terjadi ketika tidak ada hasil yang menjamin. Ketakutan ini juga dapat muncul saat terdapat beberapa dari tersebut bahkan tidak ada opsi sama sekali. (*)

Editor: Nur Adilasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us