Tiap Healing ke Jawa Barat… Tapi Bingung, Punglinya Nggak Kelar-Kelar? Yuk Kita Kupas Tuntas dan Cari Solusinya

Curug Citambur salah satu lokasi wisata di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. (axialnews)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Kalau ngomongin wisata di Jawa Barat, pasti langsung kebayang tempat-tempat keren kayak Lembang, Pangandaran, Ciwidey, atau curug-curug di Suka Bumi dan Bogor yang indah dan cantik banget buat healing.

Jawa Barat itu kayak paket lengkap: ada gunung, pantai, kota yang adem, kuliner enak, sampai tempat foto aesthetic.

Makanya, nggak heran kalau tiap weekend banyak orang dari luar kota datang buat refreshing. Tapi di balik semua keindahan itu, ada satu hal yang sering bikin wisatawan ilfeel yaitu pungli alias pungutan liar.

Masalah pungli ini tuh kadang muncul tiba-tiba. Lagi asik parkir mobil, eh dimintain tarif yang nggak masuk akal. Mau masuk ke spot foto, tiba-tiba ada “tarif tambahan” yang sebenarnya nggak resmi. Bahkan ada juga yang maksa-maksa kasih jasa padahal kita nggak minta.

Hal-hal kayak gini nih yang bikin momen jalan-jalan jadi keganggu, dan bahkan beberapa orang sampai malas balik lagi ke tempat tertentu gara-gara pengalaman buruk kayak gitu.

Kalau ditanya kenapa pungli masih sering terjadi, sebenarnya ada beberapa faktor.

Pertama, pengawasan yang kurang. Banyak tempat wisata, terutama yang masih alami atau dikelola masyarakat, belum punya sistem keamanan dan pengelolaan yang kuat. Akhirnya ada celah yang dimanfaatkan oknum buat ambil kesempatan.

Baca Juga  Orang Utan Salah Satu Pemicu Minat Wisawatan Liburan ke Bukit Lawang

Kedua, pengelolaan wisata yang belum tertata, jadi nggak ada standar tarif yang jelas. Kadang setiap orang bisa ngatur harga semaunya.

Ketiga, kondisi ekonomi masyarakat sekitar juga berpengaruh. Ada yang merasa kedatangan wisatawan adalah peluang buat dapat pemasukan tambahan dengan cara apa pun.

Dan terakhir, kurangnya edukasi, baik dari sisi masyarakat maupun pengunjung, soal aturan dan etika wisata.

Sebenernya masalah pungli ini dampaknya cukup besar, bro. Wisatawan bisa jadi malas datang lagi karena merasa dibohongi atau dirugikan. Apalagi sekarang apa-apa cepat viral.

Baca Juga  Hak dan Kewajiban Warga Negara Di Era Digital: Dilema Kebebasan dan Batasan di Ruang Siber

Sekali ada wisatawan yang upload pengalaman buruk, itu bisa bikin tempat wisata tersebut kehilangan calon pengunjung.

Nah, kalau pengunjung menurun, otomatis pedagang lokal, jasa parkir resmi, dan bisnis sekitar juga kena imbasnya. Jadi bukan cuma kenyamanan wisatawan yang terganggu, tapi ekonomi lokal pun ikut terdampak.

Terus, solusinya gimana? nih beberapa hal yang bisa bahkan harus pemerintah lakukan!

  1. Bikin tarif resmi yang jelas. Kalau tarif parkir, tiket masuk, atau jasa tertentu sudah jelas dan dipasang di papan informasi, wisatawan pasti lebih tenang.
  2. Tambah pengawasan. Pemerintah daerah atau pengelola wisata bisa nambah petugas, CCTV, atau bikin pos pengaduan. Jadi kalau ada pungli, bisa langsung ditindak.
  3. Libatkan masyarakat sekitar dengan edukasi tentang pelayanan wisata. Kalau masyarakat ngerti bahwa kenyamanan pengunjung itu penting buat ekonomi jangka panjang, mereka biasanya lebih mendukung.
  4. Kasih sanksi tegas buat oknum yang masih nekat melakukan pungli, supaya ada efek jera.
  5. Gunakan sistem pembayaran digital, misalnya tiket online atau parkir cashless. Cara ini bikin transaksi lebih transparan dan mengurangi peluang pungli.
Baca Juga  Masjid Ambruk di Sebuah Ponpes: Simbol Kegagalan Pengawasan dan Akuntabilitas Pendidikan Pesantren

Sebenernya, kalau semua pihak kerja sama pemerintah, pengelola wisata, masyarakat, dan wisatawan masalah pungli ini bisa banget dikurangi. Jawa Barat tuh punya potensi wisata yang gede banget.

Sayang kalau citranya rusak gara-gara pungli yang sebenarnya bisa dicegah. Kita semua pasti pengen wisata yang nyaman, aman, dan seru tanpa harus khawatir dimintai biaya macam-macam.

Jadi, solusinya bukan sekadar hilangin punglinya, tapi bikin ekosistem wisata yang lebih profesional, tertib, dan ramah buat semua orang. Kalau itu bisa diwujudkan, pengalaman wisata di Jawa Barat bakal jauh lebih menyenangkan dan bikin orang pengen balik lagi.(*)

Penulis : Ayatullah Muhammad Akmal Mahasiswa Universitas Tazkia Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us