AXIALNEWS.id | Pembangunan underpass Jalan Gatot Subroto Medan telah melalui proses perencanaan yang matang dan berbasis kajian teknis yang komprehensif.
Proyek ini bukan keputusan sepihak, melainkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan, karakteristik tanah, serta kebutuhan mobilitas masyarakat Kota Medan yang terus berkembang.
Menanggapi berbagai pandangan dan kekhawatiran yang berkembang di media, Tokoh Pemuda Sumut Dewata Sakti menegaskan pembangunan underpass harus dilihat secara objektif dan berbasis kebutuhan kota, bukan semata-mata pada perbandingan desain antara flyover dan underpass.
“Setiap kota memiliki karakteristik dan tantangan sendiri. Dalam konteks Medan, pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto merupakan pilihan yang sudah disesuaikan dengan kondisi teknis, tata kota, dan kebutuhan lalu lintas jangka panjang,” ujar Dewata Sakti, Rabu (4/2/2026).
Perubahan desain dari rencana flyover menjadi underpass merupakan hal yang lazim dalam proyek infrastruktur nasional. Menurut Dewata Sakti, penyesuaian tersebut justru mencerminkan adanya perencanaan yang adaptif dan bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis terbaru di lapangan.
“Perubahan perencanaan bukan berarti proyek ini keliru. Justru ini menunjukkan bahwa perencana dan pelaksana bekerja berdasarkan data, bukan asumsi,” tambahnya.
Terkait kekhawatiran potensi banjir yang ramai disorot, Dewata Sakti menilai hal tersebut telah menjadi bagian dari perhitungan teknis sejak awal. Sistem drainase dan pompa air yang dirancang pada underpass telah disesuaikan dengan kondisi curah hujan Kota Medan dan dilengkapi dengan standar operasional pemeliharaan.
“Semua infrastruktur memiliki risiko dan konsekuensi perawatan. Yang terpenting adalah kesiapan sistem dan komitmen pemeliharaannya. Sampai saat ini, Underpass Gatsu telah menunjukkan kemampuannya untuk menangani genangan air, bahkan disaat intensitas hujan yang tinggi sekalipun,” tegas Dewata Sakti.
Dari sisi tata kota, Dewata Sakti menilai underpass lebih relevan untuk kawasan padat aktivitas seperti Jalan Gatot Subroto. Selain menjaga estetika kota, underpass dinilai mampu mengurangi dampak sosial dan visual yang kerap muncul pada pembangunan flyover.
“Kita tidak hanya bicara soal kelancaran lalu lintas hari ini, tetapi juga wajah kota Medan ke depan. Underpass adalah solusi yang lebih ramah terhadap lingkungan perkotaan,” katanya.
”Kita bayangkan kalau di wilayah tersebut dibangun flyover, pasti akan mempengaruhi estetika kota. Apalagi hingga saat ini underpass Gatsu bekerja sebagaimana diharapkan.” tambahnya
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk tidak membangun opini berdasarkan kekhawatiran semata, melainkan mendorong diskusi yang sehat demi kepentingan masyarakat luas.
“Kritik tentu penting, tapi harus seimbang dan solutif. Pembangunan ini pada akhirnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat, bukan kepentingan kelompok tertentu,” tutup Dewata Sakti.
Dewata Sakti pun tegas membantah kecurigaan Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah, yang mengatakan proyek underpass ini hanya untuk kepentingan sekelompok orang.
”Perencanaan pembangunan underpass disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat pastinya. Estetika kota juga perlu diperhatikan. Tuduhan yang disampaikan Musa Rajekshah mengenai proyek yang hanya menguntungkan kelompok tertentu, harus disampaikan dengan data dan fakta bukan sekedar asumsi pribadi yang tak berdasar,” tandas Dewata.
”Pembangunan underpass Gatot Subroto merupakan langkah strategis yang telah disesuaikan dengan kebutuhan riil Kota Medan, serta didukung oleh pertimbangan teknis, tata kota, dan visi pembangunan jangka panjang. Bukan didasarkan kepentingan sekelompok orang,” pungkas Dewata.(*)
Editor: Riyan