Mahram Muabbad, Bersentuhan Menantu dan Mertua Tidak Batalkan Wudhu

Ilustrasi. (TheNoor)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Pendapat dari empat madzhab, yaitu Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali bahwa dalam Islam, bersentuhan antara mertua dan menantu tidak membatalkan wudhu, karena mereka termasuk mahram muabbad (permanen) yang haram dinikahi.

Alasan:

  • Mertua dan menantu termasuk mahram yang haram dinikahi, sehingga tidak membatalkan wudhu.
  • Bersentuhan dengan mahram tidak termasuk pembatal wudhu menurut empat madzhab.
  • Islam mengajarkan untuk menjaga batasan dan kesucian dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Namun, perlu diingat bahwa meskipun bersentuhan dengan mertua tidak membatalkan wudhu, namun tetap harus menjaga adab dan kesopanan dalam berinteraksi.

Dilansir dari syaichon.net, bahwa ada empat belas macam orang yang menjadi mahram (haram dinikahi) dalam madzhab Syafi’i, di antaranya adalah mahram sebab Mushaharah yaitu sebab menjadi mertua atau menantu.

Baca Juga  Peringati Hari Ibu, Gubsu Bercerita Kisah Ibunya

Oleh karena itu hukum bersentuhan antara mertua dan menantu tidak membatalkan wudhu’. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudlah at-Thalibinnya :

النَّاقِضُ الثَّالِثُ: لَمْسُ بَشَرَةِ امْرَأَةٍ مُشْتَهَاةٍ، فَإِنْ لَمَسَ شَعْرًا، أَوْ سِنًّا، أَوْ ظُفُرًا، أَوْ عُضْوًا مُبَانًا مِنِ امْرَأَةٍ، أَوْ بَشَرَةَ صَغِيرَةٍ لَمْ تَبْلُغْ حَدَّ الشَّهْوَةِ، لَمْ يَنْتَقِضْ وُضُوءُهُ، عَلَى الْأَصَحِّ. وَإِنْ لَمَسَ مُحَرَّمًا بِنَسَبٍ، أَوْ رَضَاعٍ، أَوْ مُصَاهَرَةٍ، لَمْ يَنْتَقِضْ عَلَى الْأَظْهَرِ
[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٧٤/١]

Baca Juga  Potensi Parkir Berlangganan Cukup Tinggi, 312.107 Roda Empat, 1.179.623 Roda Dua

Namun hal itu menjadi problem bagi sebagian orang ketika telah berpisah dengan pasangannya, apakah masih berstatus mahram dengan mantan mertuanya ?

Dalam hal ini, Syekh Abu bakar Syato ketika mensyarahi Fathul Mu’in karya Syeikh Zainuddin al-Malibary menyampaikan bahwa diantara hal-hal yang tidak dapat membatalkan wudhu’ selamanya adalah bersentuhan antara mertua dan menantu. Sebagaimana redaksi kitab I’anah at-Talibinnya :

(ونواقضه) أي أسباب نواقض الوضوء أربعة: – إلى أن قال – (و) رابعها: (تلاقي بشرتي ذكر وأنثى) ولو بلا شهوة، وإن كان أحدهما مكرها أو ميتا، -إلى أن قال -(لا) تلاقي بشرتيهما) (مع محرمية) بينهما، بنسب أو رضاع أو مصاهرة، لانتفاء مظنة الشهوة.قوله: أو مصاهرة أي توجب التحريم على التأبيد كأم الزوجة، بخلاف ما إذا كانت توجب التحريم لا على التأبيد كأخت زوجته، فإن الوضوء ينتقض بلمسها.
[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,1/79]

Dari redaksi yang disampaikan oleh syekh Abu bakar Syato tersebut sudah jelas bahwa hukum bersentuhan antara mertua dan menantu tidak membatalkan wudhu’ selamanya.

Baca Juga  Intervensi Penurunan Stunting, Target Langkat di 2024 Capai 10 %

Artinya meskipun menyentuh mantan mertua atau mantan menantu maka tetap tidak membatalkan wudhu’. Allahu a’lam.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us