Pascabencana Aceh Tamiang! Warga Tinggal di Tenda, Harta Dijarah dan Beras 5 Kilogram Dibagi 2 Keluarga

Pascabencana banjir dan longsor, Sabtu (20/12/25), kondisi wilayah disekitaran Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh masih sangat kumuh. (axialnews/Rudi Dalimunthe)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id | Hari ke-25 pascabencana banjir dan lonsor di Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh sejak 26 November 2025 lalu, warga Gang Karya, Desa Perdamaian, Kecamatan Kuala Simpang masing menetap di tenda – tenda pengungsian.

Air dan lumpur akibat bencana masih mendiami rumah – rumah warga hingga saat ini. Kondisinya kotor dan semrawut, berbagai jenis sampah dan kayu berserakan dimana – mana. Kampung meraka yang dulu tertata rapi dan bersih kini kumuh mengancam kesehatan.

Kenyataan ini diungkap jurnalis Langkat Rudi Dalimunthe ketika melakukan serangkain investigasi, Sabtu (20/12/2025).

Dilokasi terlihat sebagian rumah warga hancur terseret banjir dan lainnya rusak parah, bencana ini menyisakan duka mendalam dan kepahitan.

Bantuan Perbaikan Rumah Belum Diterima

Surya Efendi Lubis, warga Gang Karya, mengaku awalnya meyakini banjir tidak akan sampai ke pemukiman mereka. Alasannya saat tsunami 2004 dahulu, air hanya setinggi betis orang dewasa saja yang masuk ke kampungnya.

Baca Juga  Bobby Nasution Gubernur Termuda Dilantik Presiden Prabowo, Berikut 5 Visi Utamanya

Namun kenyataan berkata lain, banjir kali ini begitu mengerikan, ketinggi air hingga menyisakan bubungan rumah seluruh kampung di Gang Karya.

Diungkapkan Surya, selama pengusiang warga baru menerima bantuan beras dan air mineral dan kebutuhan harian lainnya. Untuk bantuan perbaikan rumah, warga belum menerima dari pemerintah daerah maupun pusat.

”Kalau soal bantuan yang diterima warga belum ada yang bersifat pembenahan tempat tinggal. Sejauh ini hanya sebatas beras dan air mineral saja untuk dikonsumsi warga sehari-hari,” sebut Surya.

Rumah Warga Dijarah

Beragam kesusahan terus dialami pascabencana, kata Surya, selain kekurangan dan sulitnya mendaptakan berbagai kebutuhan keseharian, harta warga korban bencana harus hilang dicuri.

Kenyataan ini mengisyaratkan seolah penderitaan yang harus dihadapi mengantri tak habis – habisnya datang bergantian. Di saat semua warga mengungsi ke perbukitan menyelamatkan diri di belakang perkampungan Desa Perdamaian, ada pihak yang tega menjarah.

Baca Juga  Kominfo Buat Netizen Salfok, Ucapan Ultah Jokowi Serupai Obituari Dihapus

Para penjarah masuk ke perkampungan menggunakan perahu terbuat dari batang pohon pisang, tanpa belaskasih mengambil harta benda korban bencana yang tertinggal di rumah.

“Banyak warga kehilangan barang berharganya, terutama barang elektronik,” ungkap Surya.

Tidak Ada Pejabat Datang

Suaida (47) warga pemilik rumah semi permanen seluas 330 meter persegi yang dihuni tiga kepala keluarga (KK), yakni anak dan menantunya, turut mengisahkan kesedihan pascabencana.

Rumah satu satunya itu hancur terbawa arus derasnya banjir, rumahnya hilang bersama seluruh harta benda dan kenangan.

“Rumah tidak ada lagi. Saat ini saya dan sanak keluarga tinggal di tenda hijau milik Asuransi MAG,” katanya.

Sepekan lamanya Desa Perdamaian tergenang banjir dengan ketinggian air mencapai empat meter, setelahnya berlahan banjir baru mulai berangsur surut. Tepatnya di hari ketujuh, pihak Asuransi Multi Artha Guna (MAG) mendirikan tenda hijau pengungsian dan membanguan dapur umum untuk makan sehari-hari korban banjir.

Baca Juga  Mangrove Langkat Butuh Perhatian Presiden, Pejuang Dipenjarakan - Perusak Berkeliaran

Sementara bantuan dari pemerintah yang pernah diterima warga, ungkap Suaida, hanya beras 5 kilogram untuk dibagi dua kepala keluarga, bantuan lainnya sama sekali tidak ada.

Lebih mirisnya, hingga saat ini tidak ada pejabat berwenang turun meninjau pemukiman warga Desa Perdamaian, padahal kondisinya masih luluhlantak belum bisa dihuni.

Harapan Warga ke Pemerintah

Warga berharap agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat secepatnya melakukan pendataan dan pembangunan menggantikan rumah warga yang hanyut terbawa arus banjir.

“Saya berharap agar pemerintah dapat secepatnya melakukan pembangunan rumah tempat tinggal warga, termasuk rumah saya sudah tidak ada lagi, yang ada hanya tinggal tapak rumah saja,” ujar Suaida

Dari amatan dilokasi, di hampir seluruh wilayah termasuk perkotaan maupun pedesaan di Kecamatan Kuala Simpang masih di selimuti air kotor dan lumpur akiabat bencana, warga sangat kesulitan menjalankan aktivitas hariannya.(*)
Editor: Riyan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us