AXIALNEWS.id | Di sebuah kampus, seorang dosen menjelaskan tetang kewirausahaan.
Kewirausahaan adalah abcd sampai dengan z, dengan rangkaian teori yang bersumber dari beberapa buku hingga ber bab-bab banyaknya, yang berisi tentang menjadi pengusaha atau pebisnis sukses hingga managemen bisnis dan lain lain.
Apakah bisnis bisa diteorikan? Sehingga muncul buku-buku tentang komunikasi bisnis, kewirausahaan, dan sebagainya.
Ya sah-sah saja, sebagaimana hal yang bersifat cara atau teknik dibuat teorinya, misalnya Teori Bisnis atau Teori Komunikasi.
Namun seringkali seseorang terjebak dalam teori, keasyikan, sehingga lupa bahwa teori itu hanya sekedar wawasan atau “petujuk” sebagai panduan perjalanan lebih lanjut.
Mahasiswa terjebak dalam banyak teori, sangat memprihatinkan.
Di kepalanya ada banyak teori bersarang, ratusan jenis ilmu. Makin tinggi strata kuliah, S1, S2, maka teori pun makin banyak ditelannya.
Teori memang amat penting, terutama sebagai file ilmu. Sulit dihayalkan jika teori atau ilmu tidak di file kan, maka akan terjadi kepunahan ilmu-ilmu tertentu.
Jika tidak ada teori elektronik, maka dunia prakteknya akan kehilangan generasi berikutnya, bisa stagnan karena tidak ada yang namanya pengembangan atau kajian.
Tetapi kalau hanya berfokus di teori, bangsa ini kapan growth-nya. Padahal lebih dibutuhkan justru praktek atau aplikasi di lapangan.
Pengangguran tidak akan tuntas oleh teori ekonomi, seminar marketing atau se-abreg ilmu wirausaha lainnya.
Pengangguran harus di atasi dengan pembukaan lapangan pekerjaan dengan banyaknya wirausaha dan investor yang masuk, bukan dengan teori Agroindustri atau Agrobisnis, tetapi dengan prakteknya.
Begitu pula dengan makin menumpuknya jumlah stunting (gizi buruk), perlu di atasi secara taktis operasional, bukan dengan teori konseptual.
Praktek, praktek dan praktek.
Dalam hal ini, kita perlu mencontoh apa yang dilakukan Fakultas Teknik Mesin, di mana praktek menjadi dominasi. Karena tekhnisi ya harus praktek, bukan sekedar berteori.
Sebenarnya bidang kewirausahaan, bisnis atau apapun namanya, ya harus sepertinya mengutamakan praktek, praktek dan praktek. Karena bisnis memang bukan teori.(*)
Penulis Muhammad Ronny Suherza