AXIALNEWS.id | Cipayung Plus Sumatera Utara (Sumut) gelar aksi demo bubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) capai kericuhan tepatnya didepan Gedung DPRD Sumut, Rabu (27/8/2025).
Bendahara Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Sumut, Fadhilsyah Nasution mengatakan massa aksi ricuh saat azan ashar.
Fadhil menjelaskan petugas kepolisian memanfaatkan situasi saat massa sedang lerai menunggu azan selesai. Namun, petugas berupaya membubarkan massa dengan paksa.
“Kami hentikan orasi dan menunggu azan ashar. Tapi polisi ini langsung mengeluarkan pasukan untuk membubarkan paksa massa Cipayung Plus,” jelasnya.
“Padahal kalau kita liat aturan untuk membubarkan massa aksi itu sekitar jam 5 atau 6. Cuma, ini masi jam 4 kurang, mereka (petugas kepolisian) sudah sangat-sangat arogan dengan kami,” sambungnya.
Dirinya menyebut banyak massa Cipayung Plus mendapat kekerasan dari petugas kepolisian, padahal massa aksi sudah cukup koperatif.
“Kami mengecam tindakan arogansi polisi, Ketua Umum kami (IMM) telah mendapat kekerasan lalu ditarik ke dalam syukur udah dilepaskan. Tetapi, banyak kader kami yang mendapat kekerasan,” cetusnya.
“Parahnya kader kami dipukuli sampai bocor kepalanya. Lalu, tas kader kami ditarik ada dompet dan sejumlah uang didalamnya hingga kini tas itu belum dikembalikan,” imbuhnya.

Teks Foto: Salah satu massa aksi Cipayung Plus dari IMM kepalanya terluka (bocor) kuat diduga akibat kekerasan oknum petugas polisi yang berjaga dilokasi ujukrasa, Rabu (27/8/25) di depan Gedung DPRD Sumut. (axialnews)
Fadhil meminta Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo agar mengevaluasi Kepolisian Daerah (Polda) Sumut.
“Kami mendesak Kapolri agar bertanggungjawab atas tindakan reprsif yang dilakukan kepolisian Sumut. Kalau bisa copot Kapolda Sumut segera atas tindakan arogan ini,” tegasnya.(*)
Reporter: M Alzi
Editor: Eddy