Lokasi Difungsikannya Benteng Timbanglangkat Terus Ditelusuri Sejarawan

Stasiun Timbang Langkat di Kereta Api Deli (awal abad ke-20). (wikiwand.com)
Stasiun Timbang Langkat adalah stasiun kereta api yang terletak di Binjai, Indonesia, di daerah dekat Terminal Bus Binjai. Stasiun ini terletak pada ketinggian +29,30 m (96,1 ft) dan terletak di Divisi Regional I Perkeretaapian Sumatera Utara dan Aceh. Berbeda dengan kebanyakan stasiun lain di Sumatera Utara yang memiliki arsitektur berbeda, stasiun Binjai tetap merupakan bangunan bergaya kolonial sejak awal pembangunannya. (wikiwand.com)
Iklan Pemilu

AXIALNEWS.id[dibaca: eksil nius] — Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Suprayitno MHum menelusuri sejumlah kawasan pemukiman di Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai mencari lokasi yang diperkirakan pernah difungsikan sebagai Benteng Timbanglangkat, Sabtu (17/11/2022).

“Penelusuran ini penting kita lakukan sebagai salah satu tahapan penetapan situs cagar budaya,” ungkap Suprayitno, yang hadir bersama Penggiat Budaya Kota Binjai, Resti Oktriani Sinulingga, dan Datuk Amrunsyah, salah satu keturunan Datuk Sulong Barat. Datuk Sulong Barat merupakan salah satu Penguasa Timbanglangkat di abad ke-19.

Pada penelusuran tahap awal tersebut, Suprayitno yang juga Ketua Tim Cagar Budaya Kota Binjai, menyempatkan diri bertemu dan mewawancarai keturunan Penguasa Timbanglangkat, seperti Datuk Mohamad Khaliq keturunan Datuk Abdul Djalil, dan Datuk Fadliansyah keturunan Datuk Sulong Barat.

Dalam kunjungannya itu pula, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Utara ini, juga diperlihatkan sejumlah barang pusaka peninggalan Penguasa Timbanglangkat yang masih tersimpan dengan baik, seperti Pusaka Bengang dan Matawari, serta Tarombo, Stempel Batu Penguasa Timbanglangkat.

Baca Juga  Wagubsu Minta Patung Orang Utan Disayembarakan
Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Suprayitno MHum menelusuri sejumlah kawasan pemukiman di Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai mencari lokasi yang diperkirakan pernah difungsikan sebagai Benteng Timbanglangkat. Ia bersama Penggiat Budaya Kota Binjai, Resti Oktriani Sinulingga, dan Datuk Amrunsyah, salah satu keturunan Datuk Sulong Barat. Datuk Sulong Barat merupakan salah satu Penguasa Timbanglangkat di abad ke-19. (axialnews/Istimewa)

Namun Suprayitno mengakui, sejauh ini masih banyak informasi penting yang belum berhasil didapatkan, terutama mengenai lokasi yang pernah dijadikan Benteng Timbanglangkat.

“Tapi kita tetap optimis, (lokasi Benteng Timbanglangkat) ini dapat segera kita temukan. Tentunya dengan tetap berpedoman pada bukti-bukti fisik, serta sumber-sumber sejarah, seperti catatan arsip, dokumen kolonial, dan berita surat kabar yang terbit saat itu,” terang akademisi 61 tahun tersebut.

Fungsi & Sejarah Benteng Timbanglangkat

Dijelaskan Suprayitno, Benteng Timbanglangkat sendiri merupakan markas pertahanan tradisional di Urung Serbanyaman (Sunggal), pada abad ke-19. Daerah ini menjadi salah satu dari empat wilayah federasi (landschape) Kesultanan Deli, selain juga Urung Sapuluhduakuta (Hamparanperak), Urung Sukapiring (Kampungbaru), dan Urung Senembah (Patumbak).

“Besar kemungkinan, Timbanglangkat ini adalah daerah yang sangat penting di Sunggal, sejak masa prakolonial. Bukan hanya digunakan sebagai basis pertahanan, tetapi juga berperan sebagai bandar perdagangan,” ujarnya.

Sejarawan USU, Dr Suprayitno MHum menemui Datuk Mohamad Khaliq keturunan Datuk Abdul Djalil, dan Datuk Fadliansyah keturunan Datuk Sulong Barat. Diperlihatkan barang pusaka peninggalan Penguasa Timbanglangkat yang masih tersimpan dengan baik, seperti Pusaka Bengang dan Matawari, serta Tarombo, Stempel Batu Penguasa Timbanglangkat. (axialnews/Istimewa)

Benteng Timbanglangkat Lokasi Perang Sunggal

Diakui Suprayitno, Benteng Timbanglangkat merupakan tempat yang bersejarah. Sebab di benteng inilah terjadinya peristiwa Perang Sunggal, yakni sebuah perlawanan fisik rakyat pribumi terhadap Pemerintah Kolonial Belanda. Peristiwa ini berlangsung selama 11 bulan, terhitung sejak Mei 1872 hingga Maret 1873. Bahkan tanggal 17 Mei 1872, yang diyakini sebagai hari dimulainya pertempuran bersejarah ini kemudian ditetapkan menjadi hari jadi Kota Binjai.

“Sesuai catatan kolonial, Benteng Timbanglangkat digambarkan sebagai sebuah bangunan pemukiman yang dibatasi dinding dari tanah liat dan pagar bambu runcing setinggi 3,5 meter, serta dilindungi parit selebar 2,5 meter dengan kedalaman sekitar 3,5 meter. Di dalamnya terdapat rumah panggung. Lokasinya kira-kira berjarak 100 langkah dari pertemuan Sungai Mencirim dan Sungai Bingei,” sebutnya.

Baca Juga  AKBP Danu Dikenal Humanis & Merangkul Semua Kalangan

Akan tetapi setelah Benteng Timbanglangkat berhasil diduduki oleh pasukan Belanda, menurut Suprayitno, tempat ini kemudian dibakar karena dianggap terlalu kotor dan kumuh.

“Padahal sebenarnya tidak ada perintah resmi dari Pemerintah Kolonial Belanda untuk melakukan pemusnahan benteng tersebut,” tandasnya.

Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Suprayitno MHum, juga selaku Ketua Tim Cagar Budaya Kota Binjai dan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Utara. (axialnews/Ist)

Tiga Tokoh Penting pada Perang Sunggal

Pada peristiwa Perang Sunggal sendiri, dia menyebut, terdapat tiga tokoh yang memiliki peran sangat penting. Mereka antara lain, Datuk Mohamad Dini Surbakti, dan Datuk Abdul Djalil Surbakti dan Datuk Sulong Barat. Ketiganya bahkan sempat ditawan Belanda di Cilacap, Jawa Tengah.

Baca Juga  Keluhan Warga Beguldah Binjai Soal Galian C, Direspon Forkopimda

Dalam masa penahanan itu, Datuk Mohamad Dini Surbakti dan Datuk Abdul Djalil Surbakti pada akhirnya wafat dan dimakamkan di sana. Sedangkan Datuk Sulung Barat dipulangkan ke Sunggal pada 1885 dan wafat pada 1912.

“Jadi, setelah kalah perang dengan Belanda, keturunan dan para pengikut Penguasa Timbanglangkat, memutuskan mundur ke Tanduk Banua, yang kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang,” jelas Suprayitno.

Untuk menghindari kejaran musuh, keturunan dan para pengikut Penguasa Timbanglangkat tadi kemudian beranjak menuju Kuta Gajah atau Kampung Gajah (Sibolangit), dengan melintasi jalan setapak dan menyusuri hutan melewati Rantaubetul dan Sapouruk.

“Jadi, Kampung Gajah ini diyakini sebagai pemukiman awal komunitas marga Surbakti Gajah. Kampung ini juga yang menjadi daerah asal para penguasa Sunggal. Sehingga tidak heran kalau gambar gajah ada dalam Bendera Urung Sunggal,” jelas Suprayitno.(*)

Reporter: AN Yusuf
Editor: Fakhrur Rozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

Contact Us