Matanya yang sayup mengeluarkan air mata, diiringi tangisan kecil dari bibirnya. Sebagai ungkapan rasa sakit luarbiasa yang dirasanya.
“Anak kami selalu berbaring, jika tubuhnya tersentuh langsung kesakitan. Apalagi saat harus dimandikan, meski pelan pelan mengangkatnya dia tetap saja kesakitan,” ujar Heri, Kamis (21/4/2022).
“Sebagai orang tua hati kami sangat tersayat melihatnya. Namun karena kami yakin ini adalah takdir Allah SWT, kami tetap sabar dan ikhlas menjalaninya,” piluhnya.
Sedihnya lagi, kata Heri, saat melihat anaknya bangun tidur di pagi hari. Mulutnya selalu dipenuhi darah segar.
“Hampir setiap pagi istri saya membersihkan mulut anak kami, yang penuh dengan darah,” ungkapnya sedih.

Heri mengakui saat ini biaya yang dikeluarkan untuk mengobati anaknya sudah menghabiskan puluhan juta. Ia berupaya menyembuhkan anaknya dengan pengobatan alternatif dan medis dirumah sakit.
“Biayanya sudah Rp30 juta lebih, untuk berobat kesana kemari. Namun anak kami juga belum sembuh, jadi masih banyak biaya yang masih harus dikeluarkan kedepannya,” katanya.
“Kami sangat mengharapkan bantuan dari para dermawan,” tuturnya.
Biaya pengobatan selama ini, ia dapatkan selain dari simpanan pribadi dari bantuan saudara, jiran tetangga, rekan kerja, pimpinan ditempat kerja serta berhutang kesana kemari.
“Kesana kemari nyari biayanya (hutang) kami, jadi sekarang banyak hutang. Tapi saya ya tidak mengapa asal anak bisa sembuh. Ada juga bantuan saudara dan teman,” ungkapnya.
Saat ini, sambung Heri, anaknya tengah dirawat inap di Rumah Sakit (RS) di Kota Binjai mulai 17 April 2022. Sebab memerlukan transfusi darah karena hasil pemeriksaan HB (hemoglobin) hanya 3.
“Di RS ini alhamdulillah tidak dikenakan biaya karena menggunakan BPJS,” sebutnya.