Kini, Harsono telah menuai hasil dari jerih payahnya. Dagangannya yang ia beri nama Cilok Edy kian laris dan dikenal masyarakat. Dari yang semula hanya memiliki satu gerobak, ia akhirnya punya sepuluh – meski sekarang tinggal empat.

Ia juga sempat membuka cabang di Probolinggo dan Bondowoso. Namun, cabang Cilok Edy di luar kota tak bertahan lama. Kata Harsono, penjaganya curang.
Kesuksesan lain Harsono dari berjualan cilok adalah bisa membeli 3 apartemen, 13 rumah, hingga sawah.
Aset-aset itu didapat Harsono dan istri dari memutarkan uang hasil penjualan cilok. Sebagai modal membeli aset-aset itu, Harsono meminjam uang di bank, lantas ia membayarnya dengan hasil penjualan cilok. Ia menggunakan aset-aset tersebut untuk investasi. Mereka membeli rumah untuk dikontrakkan dan dijadikan tempat kos.
“Sekarang apartemen punya tiga untuk disewakan, rumah ada 13 untuk dikontrakkan dan dikoskan,” beber Harsono saat ditemui Kompas.com di rumahnya.
Berkat berjualan cilok pula, Harsono juga telah menunaikan ibadah haji pada 2019 lalu. Harsono menyampaikan, kesuksesan yang diraihnya tidaklah instan, melainkan membutuhkan proses. “Harus bisa mengalami suka duka menekuni bisnis itu,” tandasnya.(*/axialnews.id)
Berita ini sudah tayang dan dikutip dari kompas.com berjudul Cerita Penjual Cilok, Awalnya Bermodal Rp 20.000, Kini Bisa Naik Haji hingga Beli 3 Apartemen