Siapa Sajakah Jenderal Bintang Lima, Mari Kenali Sosoknya

Seketsa pangkat bintang lima, sumber wikipedia.org

Jenderal Soedirman

Iklan Pemilu

Jenderal Soedirman lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916. Sejak kecil ia dididik untuk menjadi anak yang disiplin serta memiliki sopan santun Jawa yang tradisional. Persentuhannya dengan dunia militer dimulai saat mengikuti latihan Pembela Tanah Air (PETA) angkatan kedua di Bogor. Setelah itu, ia diangkat menjadi daidanco (komandan batalyon) berkedudukan di Kroya, Banyumas. Sebagai komandan, Soedirman rupanya sangat dicintai oleh anak buahnya karena sangat memperhatikan kesejahteraan prajurit.

Ia tidak segan-segan untuk bersitegang dengan opsir-opsir Jepang. Namun, karena itu ia justru dicurigai. Jepang sempat berniat “menjebak” Soedirman dengan membawanya dan beberapa orang perwira PETA lainnya ke Bogor dengan dalih akan mendapat lanjutan pada Juli 1945. Sebetulnya saat itu Jepang berniat untuk membuang Soedirman. Niat itu tak terlaksana karena Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Soedirman pun kembali ke Banyumas.

Baca Juga  Jembatan Putus di Terjang Banjir Lahar Gunung Semeru

Setelah Indonesia merdeka, Soedirman terpilih menjadi ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Karasidenan Banyumas. Tak lama kemudian ia diangkat sebagai Komandan Divisi V Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah BKR meleburkan diri ke TKR. Pada 12 November 1945, Soedirman pun dipilih sebagai pimpinan tertinggi TKR karena pemegang jabatan itu, Soeprijadi, tidak pernah muncul. Bersamaan dengan itu, Soedirman menghadapi ancaman pihak sekutu di Magelang dan Ambarawa.

TKR berhasil memukul mundur melalui pertempuran di Ambarawa. Pada 15 Desember 1945, Soedirman dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai panglima besar TKR dengan pangkat jenderal. Soedirman kerap kali berbeda pendapat dengan pemerintah dalam menghadapi agresi militer Belanda. Sebagai militer, ia ingin pertentangan diselesaikan melalui cara-cara militer, sedangkan pemerintah ingin menempuh jalan diplomasi.

Baca Juga  Ma’ruf Amin Himbau Kabupaten/Kota se-Sumut Miliki MPP

Soedirman pun rela berperang dengan Belanda melalui gerilya meski saat itu ia menderita penyakit TBC (tubercolosis). Paru-parunya hanya berfungsi 50 persen. Pada Desember 1948, Soekarno sempat menasihati Soedirman agar kembali ke rumah karena sakit. Namun, nasihat itu ditolak dan ia menegaskan akan terus bergerilya bersama para prajurit.

“Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit,” kata Soedirman saat itu.

Selama bergerilya, Soedirman harus ditandu dengan berpindah-pindah tempat dan keluar masuk hutan. Ia tidak bisa memimpin secara langsung pasukannya saat bertempur, tetapi ia memimpin lewat pemikiran dan motivasi untuk anak buahnya. Setelah hampir 7 bulan bergerilya, Soedirman menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Belanda. Ia berencana merebut Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, dari tangan Belanda. Serangan dilakukan pada 1 Maret 1949 pagi dan akhirnya pasukan Indonesia berhasil menguasai Yogyakarta dalam waktu 6 jam, peristiwa itu kelak dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret.

Serangan itu menjadi titik balik bagi Indonesia. Belanda akhirnya menyepakati Perjanjian Roem-Royen. Para pejabat pemerintah Indonesia yang dulu ditawan dikembalikan ke Yogyakarta. Namun, Soedirman tidak mau buru-buru kembali ke Yogyakarta karena ia khawatir dengan kelicikan Belanda. Soedirman akhirnya mau memasuki Yogyakarta setelah dijemput oleh Sri Sultan Hamengku Buwono. Seiring waktu berjalan, penyakit TBC yang diderita Soedirman semakin parah dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Pada 29 Januari 1950, ia meninggal di Magelang pada usia 34 tahun lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Soedirman ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1964. Ia juga dianugerahi pangkat kehormatan jenderal besar TNI pada 30 September 1997.

Baca Juga  Juara 1 Hafiz 30 Juz Nasional, Zahran Ditepung Tawari

Halaman: 1 2 3 4
Berita Lainnya

Contact Us